Juara Bertahan Belum Meyakinkan, Swiss Siap Guncang Argentina

  • 11 Jul 2026 15:49 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, New Jersey – Status sebagai juara bertahan tak membuat langkah Argentina menuju semifinal Piala Dunia FIFA 2026 berjalan mulus. La Albiceleste justru menghadapi ujian berat saat bertemu Swiss pada laga perempat final yang berlangsung Minggu, 12 Juli 2026 pukul 09:00 WITA, dengan satu tiket menuju empat besar menjadi taruhannya.

Di atas kertas, Argentina masih difavoritkan. Namun performa Lionel Scaloni dan anak asuhnya sepanjang fase gugur memperlihatkan bahwa mereka bukan lagi tim yang sulit ditembus seperti ketika menjuarai Piala Dunia empat tahun lalu.

Argentina memang menyapu bersih fase grup dengan tiga kemenangan dan hanya sekali kebobolan. Akan tetapi, memasuki babak gugur, pertahanan mereka mulai menunjukkan keretakan.

Cape Verde mampu dua kali menyamakan kedudukan sebelum akhirnya menyerah 2-3 lewat babak tambahan waktu. Drama serupa kembali terjadi saat menghadapi Mesir, ketika Argentina dipaksa bangkit sebelum memastikan kemenangan yang mengantar mereka ke perempat final.

Dua pertandingan tersebut memunculkan satu kesimpulan penting.

Argentina masih memiliki Lionel Messi, tetapi ketergantungan terhadap sang kapten semakin besar.

Messi terus menjadi pusat kreativitas sekaligus penyelesai akhir. Hampir seluruh serangan berbahaya Argentina mengalir melalui kaki pemain berusia 39 tahun itu. Situasi tersebut memang membuat La Albiceleste tetap berbahaya, tetapi sekaligus membuat pola permainan mereka lebih mudah dibaca lawan.

Absennya sosok seperti Ángel Di María yang mampu membuka ruang dari sektor sayap membuat variasi serangan Argentina berkurang. Julian Alvarez memang bekerja keras sebagai pendamping Messi, tetapi kreativitas dari sisi lapangan belum mampu menyamai era kejayaan sebelumnya.

Sementara itu, Swiss datang tanpa sorotan besar, tetapi justru menjadi salah satu tim paling konsisten sepanjang turnamen.

Pasukan Murat Yakin mencatat sejarah dengan meraih kemenangan terbanyak mereka dalam satu edisi Piala Dunia. Lebih penting lagi, mereka menunjukkan identitas yang jelas sebagai tim yang disiplin, sabar, dan sulit ditembus.

Dalam satu dekade terakhir, Swiss memang berkembang menjadi langganan tim yang merepotkan negara-negara besar.

Mereka mencapai babak 16 besar pada dua edisi Piala Dunia terakhir serta menembus perempat final dalam dua edisi Euro secara beruntun. Kini, mereka memiliki peluang mencetak sejarah baru dengan mencapai semifinal Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Kunci kekuatan Swiss berada pada organisasi permainan.

Granit Xhaka menjadi pengatur tempo sekaligus pemimpin di lini tengah. Di belakangnya, Manuel Akanji memimpin pertahanan yang selama ini tampil disiplin dalam menjaga ruang. Sementara di lini depan, kecepatan Dan Ndoye diperkirakan menjadi senjata utama untuk mengeksploitasi celah pertahanan Argentina yang beberapa kali terlihat rapuh dalam transisi bertahan.

Secara taktik, pertandingan ini diprediksi berlangsung menarik.

Argentina kemungkinan tetap mendominasi penguasaan bola, sedangkan Swiss lebih nyaman menunggu sambil mencari kesempatan menyerang balik. Pendekatan tersebut telah beberapa kali berhasil membuat lawan frustrasi dalam turnamen ini.

Lionel Scaloni diperkirakan tidak akan melakukan banyak perubahan karena seluruh pemain utamanya berada dalam kondisi bugar.

Sebaliknya, Swiss masih kehilangan gelandang muda Johan Manzambi yang belum pulih dari cedera lutut. Absennya pemain yang tampil impresif sebelum babak 16 besar memang mengurangi kreativitas mereka, tetapi Murat Yakin tetap memiliki kedalaman skuad yang cukup baik.

Sorotan utama tentu kembali mengarah kepada Lionel Messi.

Kapten Argentina itu memburu rekor baru dengan peluang mencetak gol dalam tujuh pertandingan fase gugur Piala Dunia secara beruntun. Ketajamannya sejauh ini menjadi alasan utama Argentina tetap bertahan dalam persaingan mempertahankan gelar.

Namun berbeda dengan lawan-lawan sebelumnya, Swiss memiliki kualitas untuk membatasi ruang gerak Messi.

Xhaka diperkirakan akan mendapat tugas khusus menjaga keseimbangan lini tengah sekaligus membantu Akanji menutup jalur umpan menuju sang megabintang. Jika strategi tersebut berjalan efektif, Argentina dipaksa mencari solusi lain dalam membongkar pertahanan lawan.

Dari sisi psikologis, tekanan justru berada di kubu Argentina.

Sebagai juara bertahan sekaligus tim peringkat satu dunia, kegagalan mencapai semifinal akan dianggap sebagai kemunduran. Sebaliknya, Swiss bermain tanpa beban karena mereka telah melampaui pencapaian terbaiknya dalam beberapa dekade terakhir.

Inilah yang membuat laga ini berpotensi menjadi salah satu pertandingan paling menarik di babak perempat final.

Argentina memiliki pengalaman, kualitas individu, dan sentuhan magis Lionel Messi. Namun Swiss menawarkan organisasi permainan yang disiplin, pertahanan kokoh, dan kemampuan membuat pertandingan tetap hidup hingga menit-menit terakhir.

Jika Messi kembali menemukan inspirasinya, Argentina berpeluang melangkah ke semifinal. Namun bila Swiss berhasil memutus pengaruh sang kapten, La Albiceleste bisa kembali dipaksa menjalani malam panjang yang menguras emosi seperti dua pertandingan sebelumnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....