Kontes Robot Terbang Indonesia 2026 di IKN Jadi Ruang Uji Teknologi Mahasiswa

  • 21 Sep 2026 19:20 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya menjadi arena kompetisi antarmahasiswa, tetapi juga ruang untuk menguji penerapan ilmu akademik menjadi teknologi yang dapat menjawab kebutuhan nyata.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Prof. Erma Suryani, mengatakan KRTI menjadi wadah pembuktian kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan teori dengan inovasi robotika dan sistem tanpa awak. Pernyataan itu disampaikan saat pembukaan KRTI 2026 di Gedung Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Senin, 21 September 2026.

“KRPI bukan sekadar kompetisi tahunan biasa, melainkan arena pembuktian bagaimana teori-teori akademis yang kita dapat di bangku kuliah dapat diintegrasikan secara nyata ke dalam inovasi teknologi robotika dan sistem tanpa awak,” ujar Erma.

KRTI 2026 mengusung tema “From Sky to Smart Capital: UAV Innovation for Indonesia’s Future City” dan diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kompetisi tahun ini mempertemukan inovasi teknologi pesawat tanpa awak dengan konteks pembangunan kota masa depan di IKN.

Erma menjelaskan, proses menuju babak final tidak berlangsung singkat karena setiap tim harus melewati tahapan perancangan, manufaktur, uji terbang, hingga seleksi. Menurutnya, mahasiswa yang berhasil mencapai tahap final telah melalui proses panjang untuk membuktikan kemampuan teknis dan kerja tim.

“Proses hingga mencapai babak final hari ini bukanlah hal yang mudah,” katanya.

Pada seleksi wilayah yang berlangsung 13–14 Agustus 2026, tercatat 213 tim dari 93 perguruan tinggi mengikuti kompetisi. Dari proses tersebut, sebanyak 94 tim dari 43 perguruan tinggi berhasil melanjutkan ke babak final KRTI 2026.

Pada babak final, 94 tim tersebut terbagi dalam lima divisi, yakni 27 tim Racing Plane, 15 tim Fixed Wing, 24 tim Vertical Take-Off and Landing (VTOL), 16 tim Technology Development, serta 12 tim Long Endurance Low Altitude (LELA).

Menurut Erma, penyelenggaraan KRTI di IKN memiliki arti tersendiri karena kawasan tersebut dapat menjadi ruang pertemuan antara inovasi perguruan tinggi dan kebutuhan pembangunan kota masa depan. Teknologi yang dikembangkan mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada arena kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan setelah perlombaan selesai.

“Kami berharap kehadiran KRTI di Ibu Kota Nusantara tidak hanya menjadi ajang kompetisi dan unjuk inovasi mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan teknologi yang dikembangkan dengan berbagai kebutuhan nyata di lapangan,” ucapnya.

Ia menyebut sejumlah teknologi yang dikembangkan dalam KRTI memiliki potensi untuk diarahkan pada kebutuhan seperti robot terbang, sistem otonom, pemetaan, pemantauan lingkungan, hingga mitigasi bencana. Karena itu, hilirisasi menjadi salah satu hal penting agar hasil inovasi mahasiswa dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

“Harapannya nanti akan ada banyak hilirisasi dari produk-produk yang ada di sini,” kata Erma.

Kehadiran KRTI di IKN juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana teknologi tanpa awak dapat ditempatkan dalam konteks pembangunan kawasan perkotaan. Bagi perguruan tinggi, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk mempertemukan pembelajaran akademik, riset, inovasi, dan kebutuhan teknologi di lapangan.

Selain kompetisi, Erma mendorong seluruh peserta menjadikan KRTI sebagai ruang bertukar gagasan dan membangun jejaring antarkampus. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pengembangan teknologi tidak berjalan sendiri-sendiri dan dapat membuka peluang pengembangan inovasi secara berkelanjutan.

“Jadikan ajang ini sebagai sarana untuk mempererat silaturahmi, bertukar gagasan, dan membangun jaringan kolaborasi antar kampus,” ujarnya.

Dalam penyelenggaraannya, ITK melibatkan sekitar 80 orang panitia dan mahasiswa pendukung untuk membantu berbagai kebutuhan kegiatan. Lebih dari 1.250 peserta dan unsur pendukung juga mendapatkan fasilitas selama rangkaian KRTI 2026 di kawasan IKN.

KRTI 2026 berlangsung 21–25 September 2026 di IKN dan ITK Balikpapan. Lima divisi yang dipertandingkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan dalam pengembangan pesawat tanpa awak, sistem otonom, serta teknologi pendukung yang dapat diarahkan untuk berbagai kebutuhan di masa depan.

Bagi masyarakat, keberadaan KRTI di IKN juga memberikan kesempatan untuk melihat perkembangan teknologi yang dikerjakan mahasiswa Indonesia secara langsung. Lebih jauh, tantangannya bukan hanya menghasilkan karya yang mampu memenangkan kompetisi, tetapi memastikan inovasi tersebut dapat berkembang menjadi teknologi yang relevan dengan persoalan masyarakat dan kebutuhan pembangunan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....