Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi Gangguan Penerbangan akibat Abu Vulkanik

  • 10 Sep 2026 08:02 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk memastikan keselamatan penerbangan, kelancaran mobilitas masyarakat, serta percepatan pemulihan operasional bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto, Senin 7 September 2026, menyampaikan pemerintah sebelumnya menutup sementara delapan bandara yang berada di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik.

Dikutip dari laman Sekretariat Negara, Selasa 8 September 2026, bandara yang sempat ditutup meliputi Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten, Budiarto, Husein Sastranegara, Taufiq Kemas, Pondok Cabe, dan Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam.

Namun, setelah dilakukan evaluasi, Bandara Atung Bungsu telah kembali dibuka karena dinyatakan tidak lagi terdampak abu vulkanik.

“Semula kami telah menutup operasional sementara delapan bandara yang terdampak. Namun, per pagi ini kami telah membuka kembali Bandara Atung Bungsu, Pagar Alam, karena dari hasil evaluasi sudah tidak terdampak lagi oleh abu vulkanik,” ujar Dudy.

Pemerintah terus memantau pergerakan abu vulkanik melalui koordinasi intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Volcanic Ash Advisory Center (VAAC).

Selain itu, pengujian berkala menggunakan metode paper test dilakukan untuk memastikan kondisi landasan dan area operasional bandara aman bagi penerbangan.

Menurut Dudy, Bandara Soekarno-Hatta telah menjalani empat kali pengujian dan hasilnya menunjukkan tidak ditemukan abu vulkanik. Meski demikian, pemerintah belum langsung membuka operasional penuh karena mempertimbangkan potensi perubahan arah angin yang dapat memengaruhi sebaran abu.

“Bandara Soekarno-Hatta sudah kami lakukan empat kali paper test dan hasilnya negatif. Namun, kami ingin memastikan kondisi benar-benar aman mengingat sebelumnya terjadi perubahan arah angin,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menyiapkan sejumlah bandara alternatif untuk mengakomodasi pengalihan penerbangan. Bandara tersebut antara lain Bandara Kertajati, Juanda, Ahmad Yani, Adi Sumarmo, dan Yogyakarta International Airport.

Maskapai penerbangan juga melakukan berbagai penyesuaian operasional, termasuk menambah frekuensi penerbangan dan mengoperasikan pesawat berbadan lebar untuk mengantisipasi lonjakan jumlah penumpang akibat pengalihan rute.

Selain itu, pemerintah menyiagakan 10 bandara yang beroperasi selama 24 jam untuk mendukung pengalihan penerbangan sekaligus mempercepat normalisasi jadwal penerbangan nasional.

“Kami juga menyiapkan 10 bandara yang beroperasi 24 jam untuk menampung pengalihan penerbangan dan mempercepat pemulihan jadwal penerbangan,” kata Dudy.

Untuk melindungi hak penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan, pemerintah mewajibkan maskapai memberikan pengembalian dana tiket secara penuh (full refund).

Pemerintah juga memberikan relaksasi izin tinggal bagi warga negara asing yang masa izin tinggalnya terlampaui akibat pembatalan penerbangan.

“Terhadap penumpang, kami memberikan haknya sesuai ketentuan yang berlaku, yakni pengembalian dana 100 persen untuk penerbangan yang dibatalkan,” ucapnya.

Untuk mendukung mobilitas penumpang menuju bandara alternatif, InJourney Airports bersama Danantara menyediakan layanan transportasi darat gratis melalui kerja sama dengan Damri dan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Layanan tersebut melayani rute menuju dan dari Yogyakarta, Solo, Semarang, serta Surabaya.

Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan keselamatan penerbangan tetap terjaga sekaligus meminimalkan dampak abu vulkanik terhadap mobilitas masyarakat dan sektor transportasi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....