El Nino Menguat, BMKG Balikpapan Ingatkan Risiko Kekeringan dan Karhutla di Kaltim

  • 22 Agt 2026 03:26 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Balikpapan: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan mengeluarkan peringatan terkait fenomena El Nino yang semakin menguat di Kalimantan Timur. Berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer terbaru, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, menjelaskan puncak El Nino diperkirakan terjadi pada September hingga Oktober 2026.

“Puncak El Nino sekitar September–Oktober. Dampak pasti, risiko kekeringan akan semakin tinggi,” kata Huda melalui pesan WhatsApp kepada RRI, Jumat 21 Agustus 2026 malam.

Seiring menguatnya El Nino, risiko kekeringan diperkirakan meningkat di berbagai wilayah Kalimantan Timur. Curah hujan diproyeksikan menurun dalam beberapa bulan ke depan.

Gejala kekeringan meteorologis juga mulai terlihat, ditandai dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang berlangsung cukup panjang. Kondisi di lapangan menunjukkan debit air Sungai Mahakam mulai menurun. Penyusutan debit juga terjadi pada sejumlah waduk yang menjadi sumber air baku, di antaranya Waduk Manggar dan Waduk Sepaku Semoi.

Sebagai langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan, BMKG menyediakan akses pemantauan titik panas (hotspot) yang dapat diakses masyarakat melalui laman resmi Satelit Polar BMKG.

Sementara itu, pemantauan sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan melalui peta SPARTAN BMKG (Sistem Peringatan Dini Kebakaran Hutan dan Lahan).

Berdasarkan pantauan pada sistem SPARTAN BMKG, kategori “Sangat Mudah Terbakar” (Very High) ditandai dengan sebaran warna merah yang terlihat di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Timur, wilayah dengan sebaran tersebut antara lain Kutai Barat, Tanah Grogot, Penajam, sebagian wilayah Kutai Kartanegara, dan Bontang.

Kondisi cuaca yang kurang menguntungkan tersebut dipengaruhi kombinasi gangguan cuaca dalam skala global dan sinoptik. Selain El Nino, saat ini terdapat aktivitas siklon tropis pada skala sinoptik.

Kombinasi kedua faktor tersebut dapat menarik dan mengalihkan kelembapan, sehingga massa udara yang melintasi Kalimantan Timur menjadi lebih kering dibandingkan kondisi normal.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat segera melakukan langkah mitigasi, antara lain dengan menghemat penggunaan air baku serta menghindari aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....