Lanud Dhomber Kerahkan Helikopter Caracal untuk Atasi Karhutla di IKN

  • 06 Sep 2026 17:27 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Balikpapan - Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Dhomber bergerak cepat menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Menggunakan helikopter Caracal H225M dari Skadron Udara 8, operasi pengeboman air (water bombing) resmi dimulai untuk memadamkan titik api yang tersebar di sejumlah wilayah strategis.

Helikopter tersebut diawaki Kapten Pnb A. Rahmanto dan Lettu Pnb Raga D.P. Pada hari pertama pelaksanaan, Sabtu 5 September 2026, tim gabungan langsung melakukan patroli udara sekaligus operasi penyiraman sebanyak dua sortie penerbangan.

Sebanyak 15 kali pengeboman air (water bombing) dilakukan di tiga wilayah terdampak, yakni Bukit Merdeka, Bukit Tengkorak, dan Wonotirto. Untuk mempercepat proses pemadaman, helikopter mengambil pasokan air dari embung-embung terdekat dengan lokasi kebakaran.

Langkah taktis tersebut dinilai efektif dalam mengurangi jumlah titik panas (hot spot) secara signifikan.

Komandan Lanud (Danlanud) Dhomber, Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana, menekankan pentingnya sinergi data dalam pelaksanaan operasi pemadaman karhutla. Menurutnya, koordinasi yang ketat diperlukan agar pelaksanaan water bombing dapat berlangsung tepat sasaran dan efektif.

"Kami membutuhkan koordinat yang akurat dan informasi terkini mengenai situasi kebakaran di lapangan. Koordinasi yang lebih ketat diperlukan agar pelaksanaan water bombing bisa jauh lebih efektif," ujar Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana.

Sejauh ini, operasi berjalan lancar tanpa kendala berarti. Danlanud memastikan kondisi cuaca mendukung, sedangkan performa pesawat dan kesiapan kru berada dalam kondisi prima untuk mendukung penanganan karhutla di kawasan IKN.

Berdasarkan laporan awal petugas Otorita IKN dan pemantauan data titik panas (hot spot) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), operasi pemadaman ditargetkan berlangsung selama lima hari.

Kendati demikian, durasi operasi tetap fleksibel dan akan disesuaikan dengan perkembangan serta dinamika kondisi di lapangan.

"Target awal pelaksanaan adalah lima hari. Namun, kami akan terus memperbarui perkembangan setiap harinya berdasarkan pantauan titik api serta laporan riil dari rekan-rekan petugas maupun masyarakat di lapangan," pungkas Danlanud Dhomber.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....