Kue Khas Banjar Untuk Berbuka Puasa

  • 09 Mar 2025 07:18 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Di tengah kehangatan bulan Ramadan, Wadai Banjar bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol kebersamaan dan keberkahan. Kehadirannya di meja makan menjadi penanda datangnya bulan suci dan momen untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terdekat.

Acil Ewwi menjelaskan bahwa banyak jenis kue khas Banjar yang dijual saat Ramadan, di antaranya Amparan Tatak Pisang, Sarimuka Lakatan, Sari Pangantin, Pare Barandam, Ipau, dan masih banyak lagi. Menurut Acil, Amparan Tatak Pisang dan Bingka Kentang adalah dua jenis wadai yang paling disukainya.

“Kalau dulu, nenek Acil sering membuat wadai Banjar sendiri. Karena sering melihatnya, Acil pun bisa membuatnya, meskipun jarang,” ungkap Acil Ewwi saat mengisi Acara Pesona Antar Komunitas Banjar Pro 4 Samarinda, Jum’at (7/3/2025).

Acil menjelaskan, sebagian besar wadai Banjar menggunakan bahan-bahan alami dan tradisional, seperti tepung beras, santan, gula merah, dan rempah-rempah lokal. Penggunaan bahan-bahan ini memberikan cita rasa autentik serta aroma khas yang membuatnya tak bisa ditemukan di tempat lain. Proses pembuatannya pun memerlukan keahlian dan ketelitian. Beberapa jenis kue memerlukan teknik pengolahan yang rumit dan waktu yang cukup lama, yang menunjukkan nilai seni dan kearifan lokal dalam setiap langkah pembuatan kue tersebut.

Sebagai contoh, Amparan Tatak Pisang memiliki bahan-bahan utama seperti pisang, santan, tepung beras, gula, garam, vanili, dan telur. Proses pembuatannya dimulai dengan merebus santan hingga mendidih, kemudian mencampurkan adonan tepung beras, garam, vanili, dan telur, sebelum dituangkan ke dalam santan panas dan diaduk rata. Setelah itu, adonan dimasukkan ke dalam loyang yang telah diolesi minyak dan dialasi plastik. Setelah mengukusnya, adonan yang berisi potong-potong pisang dituangkan dan dibiarkan hingga matang, terakhir tuang santan kental diatasnya tunggu sampai matang.

Selain Amparan Tatak Pisang, Bingka Kentang juga menjadi salah satu kue yang banyak diburu masyarakat, terutama di bulan Ramadan. Dibuat dari campuran tepung terigu, santan, telur bebek, kentang, dan bahan lainnya, Bingka memiliki tekstur lembut dengan rasa manis dan gurih. Acil Ewwi menjelaskan bahwa meskipun Bingka Kentang sudah banyak dijual di hari-hari biasa, namun saat Ramadan, kehadirannya semakin melimpah dan cita rasanya pun bervariasi tergantung siapa yang membuatnya.

Salah seorang pendengar yang bergabungan berasal dari Manggar, Balikpapan, Utuh, mengatakan bahwa kue-kue Banjar kini semakin berinovasi, dengan beberapa jenis yang dimodifikasi, meski harga kisarannya masih tetap sama dengan tahun sebelumnya. Perbedaan hanya terletak pada ukuran kue yang kini lebih kecil.

Acil Ewwi menekankan bahwa Wadai Banjar bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Kalimantan Selatan. Dengan terus menghargai dan melestarikan wadai Banjar, kita turut menjaga warisan leluhur serta memperkaya khazanah kuliner Indonesia. Dalam hal ini, melestarikan wadai Banjar berarti menjaga kekayaan budaya bangsa.

"Melestarikan wadai Banjar adalah bentuk penghargaan terhadap budaya dan warisan nenek moyang kita. Ini juga sebagai cara kita untuk berbagi kebahagiaan dan keberkahan, terutama di bulan Ramadan," ujar Acil Ewwi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....