Psikolog Ungkap Dampak Trauma Kekerasan Gender Online pada Anak
- 27 Agt 2026 08:39 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Ancaman Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang kian marak mengintai kelompok rentan di dunia maya berpotensi menimbulkan trauma psikologis mendalam serta gangguan fungsi kehidupan sehari-hari bagi para korbannya.
Dampak buruk yang dipicu oleh kejahatan digital tersebut sering kali tidak disadari oleh lingkungan sekitar, padahal gejalanya dapat dideteksi secara nyata melalui perubahan pola perilaku korban.
Psikolog Klinis Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK) Kaltim dan UPTD PPA Kota Balikpapan, Amanda Achni, mengungkapkan gangguan kualitas tidur menjadi salah satu penanda utama seseorang telah mengalami tingkat stres yang cukup parah akibat tekanan kejahatan siber.
"Intinya akan mengganggu proses keseharian. Yang umum sebenarnya yang dilakukan oleh manusia, khususnya kalau saya sih paling suka tuh ngelihatnya dari tidurnya aja. Ketika tidurnya sudah sangat terganggu, oke, berarti di situlah waktunya kamu membutuhkan bantuan," kata Amanda dalam dialog Dokter Etam, Kamis 13 Agustus 2026.
Kondisi traumatis tersebut kian kompleks lantaran sebagian besar korban kekerasan seksual berbasis digital menganggap insiden yang dialaminya sebagai sebuah aib yang sangat malu untuk diungkapkan kepada keluarga maupun kerabat.
Amanda menjelaskan bahwa perasaan bersalah yang menghantui mental korban sering kali membuat penanganan medis psikologis terlambat dilakukan, terlebih jika lingkungan terdekat gagal memberikan dukungan emosional
"Ketika sudah berkaitan dengan kekerasan seksual itu dirasa sebagai aib. Mereka merasa itu aib bukan suatu hal yang mereka harus ceritakan ke orang lain, terutama perasaan aib ini tuh bukan hanya di berada pada dirinya sendiri tapi juga pada keluarganya juga," ujar Amanda.
Selain masalah tidur, korban yang menanggung beban trauma juga cenderung menunjukkan tanda depresi seperti penurunan konsentrasi saat beraktivitas, perubahan nafsu makan ekstrem, hingga menarik diri secara total dari lingkungan sosial.
Oleh karena itu, peran aktif keluarga dan orang terdekat sangat krusial dalam memberikan penanganan awal yang aman tanpa disertai sikap menghakimi agar mental korban dapat segera dipulihkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....