Hepatitis B Ancam 6,7 Juta Penduduk Indonesia, Kenali Gejala Dini dan Pencegahannya
- 24 Agt 2026 15:07 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Hepatitis B masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia terinfeksi hepatitis B. Meski prevalensinya menurun dari 7,1 persen pada 2013 menjadi 2,4 persen pada 2023, upaya pencegahan dan deteksi dini tetap diperlukan.
Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hepatitis B merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB) dan menyerang organ hati. Infeksi dapat berlangsung akut atau berkembang menjadi kronis. Jika tidak ditangani dengan baik, hepatitis B kronis dapat menyebabkan kerusakan hati, sirosis, hingga kanker hati. Kementerian Kesehatan menyebut hepatitis B dan C kronis sebagai salah satu penyebab utama kanker hati.
Gejala Hepatitis B yang Perlu Diwaspadai
Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Senin 24 Agustus 2026, salah satu tantangan dalam menangani hepatitis B adalah penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas, terutama pada tahap awal. Kondisi tersebut membuat seseorang dapat terinfeksi tanpa menyadarinya dan berpotensi menularkan virus kepada orang lain.
Ketika gejala muncul, beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain kelelahan, kehilangan nafsu makan, mual dan muntah, nyeri perut, urine berwarna lebih gelap, tinja berwarna pucat, serta kulit dan bagian putih mata berubah menjadi kuning. Namun, tidak semua orang yang terinfeksi hepatitis B akan mengalami gejala tersebut.
Karena gejala tidak selalu terlihat, pemeriksaan menjadi bagian penting dalam upaya menemukan hepatitis B sejak dini. Salah satu pemeriksaan yang digunakan adalah deteksi antigen permukaan hepatitis B atau HBsAg. Pemeriksaan ini dapat membantu mengetahui adanya infeksi dan menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut medis.
Bagaimana Hepatitis B Menular?
Virus hepatitis B dapat menular melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi. Di Indonesia, salah satu jalur penularan yang mendapat perhatian besar adalah penularan dari ibu yang terinfeksi kepada bayi, terutama pada masa persalinan.
Kementerian Kesehatan menyebut penularan dari ibu ke anak merupakan salah satu faktor penting dalam tingginya beban hepatitis B di Indonesia. Bayi yang terinfeksi pada masa perinatal memiliki risiko sangat tinggi berkembang menjadi hepatitis B kronis.
Selain penularan dari ibu ke anak, hepatitis B juga dapat menyebar melalui paparan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi. Karena itu, masyarakat perlu menghindari penggunaan jarum suntik secara bergantian, memastikan peralatan tato atau tindakan yang menembus kulit benar-benar steril, serta menerapkan perilaku seksual yang aman.
Vaksinasi Jadi Kunci Pencegahan
Vaksinasi merupakan salah satu langkah utama untuk mencegah hepatitis B. Kementerian Kesehatan mendorong pemberian imunisasi hepatitis B kepada bayi sedini mungkin. Bayi dianjurkan memperoleh vaksin hepatitis B dalam waktu kurang dari 24 jam setelah lahir, kemudian dilanjutkan sesuai jadwal imunisasi rutin.
Pencegahan penularan dari ibu ke bayi juga dilakukan melalui pemeriksaan hepatitis B pada ibu hamil. Jika ibu diketahui terinfeksi atau HBsAg reaktif, bayi dapat memperoleh vaksin hepatitis B dan imunoglobulin hepatitis B (HBIg) sesegera mungkin setelah lahir untuk memberikan perlindungan terhadap infeksi.
Kementerian Kesehatan mencatat langkah pencegahan tersebut terus diperkuat. Pada 2024, sebanyak 89,6 persen ibu hamil telah menjalani skrining hepatitis B. Lebih dari 93 persen bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg reaktif juga telah mendapatkan imunisasi HB0 dan HBIg dalam 24 jam pertama.
Deteksi Dini Jangan Ditunda
Besarnya jumlah penduduk yang terinfeksi menunjukkan pentingnya deteksi dini hepatitis B. Masyarakat yang memiliki faktor risiko atau merasa pernah mengalami paparan virus dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan apakah perlu menjalani pemeriksaan.
Upaya deteksi dini juga menjadi bagian dari strategi Indonesia menuju eliminasi hepatitis pada 2030. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan penurunan infeksi baru hepatitis B dan C sebesar 90 persen serta memastikan sebagian besar orang yang terinfeksi dapat mengetahui status penyakitnya dan memperoleh penanganan yang tepat.
Dengan demikian, hepatitis B bukan penyakit yang sebaiknya diabaikan hanya karena gejalanya tidak selalu terlihat. Vaksinasi, pemeriksaan dini, pencegahan penularan dari ibu ke anak, dan penerapan perilaku hidup sehat menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran hepatitis B sekaligus mencegah komplikasi berat pada masa mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....