Mitos dan Fakta Asupan Ibu Menyusui serta Pentingnya Imunisasi Cegah Stunting

  • 13 Mei 2026 13:27 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Asupan ibu menyusui sering kali menjadi topik yang dipenuhi berbagai mitos di masyarakat. Banyak anggapan bahwa ibu menyusui memiliki pantangan makanan yang sangat ketat, padahal tidak semuanya benar. Dalam dialog kesehatan di Pro1 Radio Republik Indonesia Samarinda, tenaga kesehatan Puskesmas Juanda, Bidan Afi Kasturi, meluruskan pemahaman tersebut agar masyarakat tidak salah kaprah dalam praktik pemberian ASI.

Ia menjelaskan, ibu menyusui pada dasarnya dapat mengonsumsi berbagai jenis makanan selama tidak memiliki riwayat alergi dan tetap memperhatikan porsi yang seimbang. “Semua jenis makanan boleh dimakan asalkan tidak berlebihan,” ujar Afi, dikutip Rabu 13 Mei 2026.

Ditegasjannya, tidak ada larangan khusus seperti hanya boleh makan makanan rebus, tidak boleh makanan pedas, atau tidak boleh makanan bersantan. Menurutnya, pembatasan makanan yang terlalu ketat justru dapat berdampak buruk pada kondisi psikologis ibu, seperti stres dan hilangnya nafsu makan.

Bidan Afi mengatakan, kondisi tersebut justru dapat memengaruhi produksi ASI. Jika ibu tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup, maka kualitas dan jumlah ASI dapat berkurang. Hal ini pada akhirnya dapat berdampak pada pertumbuhan bayi, termasuk berat badan yang tidak meningkat secara optimal.

Ia menekankan pentingnya pola makan seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, dan sayuran. Beberapa jenis sayuran seperti bayam, kelor, katuk, hingga daun singkong dapat dikonsumsi sebagai bagian dari menu harian. Namun, yang terpenting adalah keberagaman gizi agar kebutuhan ibu dan bayi tetap terpenuhi.

Selain aspek nutrisi, ia juga menyoroti pentingnya kondisi psikologis ibu. Ia mengatakan bahwa ibu harus percaya diri dalam proses menyusui dan yakin bahwa tubuhnya mampu memproduksi ASI yang cukup. “Ibu harus yakin kalau ASI itu cukup,” katanya.

Tenaga kesehatan Puskesmas Juanda, Bidan Afi Kasturi, saat dialog bersama RRI. (Foto: Tangkapan layar youtube RRI Samarinda)

Menurutnya, keberhasilan menyusui juga dipengaruhi oleh teknik yang benar, seperti perlekatan bayi yang baik dan posisi menyusui yang tepat. Jika diperlukan, ibu dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi untuk mendapatkan pendampingan lebih lanjut agar proses menyusui berjalan lancar.

Lebih jauh, Afi mengingatkan pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada asupan makanan, tetapi juga pada kondisi kesehatan anak secara menyeluruh. Anak yang mengalami infeksi berulang atau penyakit kronis seperti tuberkulosis dapat mengalami gangguan pertumbuhan yang berpengaruh pada berat badan dan perkembangan fisik.

Untuk itu, ia menegaskan pentingnya imunisasi sebagai salah satu langkah pencegahan penyakit. Imunisasi dasar seperti Hepatitis B (HB0) diberikan sejak bayi baru lahir dan dilanjutkan sesuai jadwal di fasilitas kesehatan seperti puskesmas.

“Imunisasi itu didapatkan mulai dari bayi baru lahir,” ucapnya. Ia menambahkan, pemerintah telah menyediakan layanan imunisasi gratis di puskesmas sehingga masyarakat tidak perlu khawatir mengenai biaya.

Bidan Afi juga mengingatkan, orang tua harus aktif dalam memeriksakan dan melengkapi imunisasi anak sesuai jadwal yang telah ditentukan. Menurutnya, kelengkapan imunisasi sangat penting untuk melindungi anak dari berbagai penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan risiko stunting.

Dengan pemahaman yang benar mengenai gizi ibu menyusui, pola asuh yang tepat, serta kepatuhan terhadap imunisasi, diharapkan masyarakat semakin mampu mencegah stunting sejak dini. Sinergi antara keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menciptakan generasi yang sehat, kuat, dan berkualitas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....