CKG Anak Capai 23,5 Juta Pemeriksaan, Pemerintah Dorong Tindak Lanjut

  • 22 Agt 2026 12:12 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta- Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi anak yang telah berjalan selama setahun sejak Februari 2025 mencatat capaian signifikan. Sebanyak 23,5 juta anak telah mengikuti pemeriksaan kesehatan.

Namun, pemerintah menegaskan program CKG tidak berhenti pada tahap skrining awal. Seluruh temuan masalah kesehatan, mulai dari karies gigi, anemia, hingga gangguan kesehatan mental, harus ditindaklanjuti secara menyeluruh agar kondisi kesehatan anak tidak memburuk pada masa mendatang.

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Kamis 20 Agustus 2026, hal tersebut disampaikan dalam Diskusi Publik "Setahun Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk Anak, Apa Selanjutnya?" yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI bersama sejumlah mitra di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis 13 Agustus 2026.

Data evaluasi menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara jumlah anak yang menjalani pemeriksaan dengan proses rujukan dan tindak lanjut medis. Sebanyak 95 persen balita yang berisiko tuberkulosis (TBC) tercatat belum menjalani tes konfirmasi.

Selain itu, kasus karies gigi ditemukan pada hampir 100 persen siswa SMP dan SMA. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan layanan kesehatan agar hasil skrining dapat segera ditindaklanjuti.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas layanan di puskesmas. Menurutnya, puskesmas tidak hanya harus mampu melakukan pemeriksaan, tetapi juga memberikan pengobatan, terutama untuk menangani karies gigi yang memiliki prevalensi tinggi.

Perhatian juga diberikan terhadap kesehatan mental remaja. Pemerintah mendorong penguatan layanan konseling melalui telemedisin dan peran guru bimbingan dan konseling (BK) di sekolah.

"Hasil CKG gigi anak paling banyak ditemukan bermasalah. Tiga puluh sampai 40 persen giginya jelek-jelek. Nomor satu karies, nomor dua masalah gusi. Pastikan semua puskesmas tidak hanya punya kursi gigi, tetapi juga bisa menambal dan merawat akar gigi," ujar Budi.

Perwakilan Forum Anak, Hasbi, menekankan pentingnya transparansi hasil pemeriksaan kesehatan kepada anak dan orang tua. Hasbi, yang merupakan salah satu peserta CKG, mengaku tidak pernah menerima hasil pemeriksaan secara lengkap.

Kondisi tersebut membuatnya terlambat mendapatkan perawatan gigi hingga akhirnya harus menjalani pencabutan gigi pada usia 15 tahun.

"Di sana kita periksa tinggi badan, berat badan, tekanan darah, sampai ambil darah untuk tes Hb (hemoglobin). Tapi hasilnya tidak dikasih tahu apa saja," kata Hasbi.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi menegaskan hasil skrining harus disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Penyampaian hasil juga perlu melibatkan orang tua dan berbagai unsur masyarakat, termasuk Dinas Pendidikan serta Tim Penggerak PKK. Langkah tersebut dinilai penting agar intervensi kesehatan dapat dilakukan secara efektif dan menyeluruh.

Mulai 2027, keberhasilan program CKG akan diukur berdasarkan rasio temuan penyakit yang berhasil ditangani, bukan hanya berdasarkan jumlah anak yang menjalani pemeriksaan.

Pemerintah juga berkomitmen menyediakan obat gratis selama 15 hari pertama bagi anak yang memiliki kondisi kesehatan dan membutuhkan perhatian khusus.

Diskusi publik tersebut menghasilkan lima arah penguatan program CKG anak, yaitu meningkatkan pemenuhan hak dan kenyamanan anak dalam proses skrining, menjamin kerahasiaan data medis, mengintegrasikan CKG dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta melibatkan masyarakat sipil dalam pemantauan pelaksanaan program.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....