Belanja Impulsif Berulang Bisa Picu Gangguan Perilaku Hoarding
- 07 Agt 2026 14:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kebiasaan membeli barang tanpa pertimbangan dapat berkembang menjadi masalah perilaku apabila dilakukan secara terus-menerus. Psikolog mengingatkan, barang yang menumpuk namun tidak digunakan menjadi salah satu tanda perilaku yang perlu diwaspadai.
Anggota Ikatan Psikologi Klinis Himpunan Psikologi Indonesia (IPK HIMPSI) Kaltim Anang Arief Abdillah menjelaskan, perilaku impulsive buying sebenarnya dapat terjadi dalam kondisi tertentu dan tidak selalu berdampak negatif. Namun, perilaku tersebut perlu menjadi perhatian ketika mulai menimbulkan dampak buruk bagi individu.
Menurutnya, salah satu tanda impulsive buying mulai menjadi masalah adalah munculnya perasaan menyesal setelah membeli barang, merasa mengalami kerugian, hingga kebiasaan tersebut dilakukan secara berulang tanpa mampu dikendalikan.
“Akan menjadi negatif saat kita sudah dapat dampaknya. Dampaknya itu tadi ada perasaan menyesal, ada perasaan merasa rugi, dan perilaku impulsif ini selalu dilakukan berulang,” ujarnya dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda dikutip Jumat, 7 Agustus 2026.
Ia mengatakan, perilaku belanja impulsif yang terus berulang dapat menyebabkan barang-barang menumpuk meskipun tidak digunakan. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi perilaku hoarding atau kebiasaan menyimpan barang secara berlebihan.
“Bahkan munculnya sendiri saat perilaku impulsif itu tidak terkontrol, akhirnya barang menumpuk semuanya. Apakah dipakai semua? Jawabannya tidak. Apakah akan dibuang? Jawabannya tidak. Sehingga timbullah perilaku yang namanya hoarding,” katanya.
Dosen Psikologi Universitas Mulawarman ini juga mengatakan kondisi tersebut menunjukkan seseorang perlu mulai belajar mengatur diri, termasuk kemampuan menahan dorongan untuk membeli sesuatu. Salah satu kemampuan yang perlu dilatih adalah delay of gratification atau kemampuan menunda kepuasan sesaat.
“Jadi itu sudah masuk ke mana perilaku-perilaku yang mungkin butuh untuk bantuan, bagaimana untuk mengatur diri, bagaimana belajar untuk menahan diri, kita bilangnya delay of gratification,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat perlu mulai memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan agar perilaku belanja tidak berkembang menjadi kebiasaan yang merugikan. Menurutnya, ketika seseorang mulai memaksakan diri membeli barang hingga mengabaikan kebutuhan utama, kondisi tersebut menjadi tanda untuk lebih waspada.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....