Pelari Diingatkan Tidak Memaksakan Diri saat Tubuh Beri Sinyal Bahaya
- 07 Agt 2026 10:45 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Maraknya aktivitas olahraga seperti lari jarak jauh membuat masyarakat perlu lebih waspada terhadap risiko heat stroke. Dokter menyebut aktivitas fisik berat dapat meningkatkan produksi panas dari dalam tubuh sehingga risiko serangan panas semakin besar.
Dokter Anestesi Rumah Sakit Hermina Samarinda, dr. Guruh Perkasa, menjelaskan heat stroke tidak hanya disebabkan oleh paparan cuaca panas, tetapi juga dapat terjadi akibat peningkatan produksi panas dari dalam tubuh ketika seseorang melakukan aktivitas fisik sedang hingga berat.
“Heat stroke itu terbagi dua. Yang biasa kita bilang heat stroke klasik itu biasanya akibat paparan dari luar, seperti lingkungan, cuaca yang terlalu panas. Kemudian yang kedua itu akibat exercise, jadi produksi panas di dalam tubuh kita meningkat,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam obrolan Tonight Corner Pro 2 Samarinda dikutip Jumat, 7 Agustus 2026.
| Baca juga: Atur Obat dan Gula Darah saat Puasa |
Menurutnya, aktivitas olahraga berat seperti lari jarak jauh dapat meningkatkan risiko karena tubuh mengalami kombinasi antara paparan panas dari lingkungan dan peningkatan suhu akibat kontraksi otot yang terus bekerja.
“Lari maraton, lari cukup jauh, itu sebenarnya dia mengkombinasikan dua jenis kemungkinan dia terkena heat stroke. Yang klasik terpapar dari luar, cuaca panas, kemudian dari dalam kontraksi otot yang berlebihan itu akan mengakibatkan produksi panasnya juga meningkat,” katanya.
dr. Guruh mengingatkan para pelari untuk tidak mengabaikan tanda-tanda ketika tubuh mulai mengalami kelelahan. Kondisi seperti napas yang semakin cepat, tubuh terasa kewalahan, hingga kemampuan bergerak yang menurun merupakan sinyal bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk beristirahat.
“Jadi pada saat posisi kewalahan, napas kita akan cepat. Karena salah satu tujuan napas cepat adalah untuk mengeluarkan panas juga. Itu tubuh sudah memberikan sinyal, kamu harus istirahat,” ucapnya.
Ia menambahkan, masyarakat yang ingin mengikuti olahraga dengan intensitas tinggi perlu melakukan penyesuaian secara bertahap, baik terhadap kondisi tubuh maupun durasi latihan. Menurutnya, memaksakan diri saat tubuh sudah memberikan tanda bahaya dapat meningkatkan risiko terjadinya heat stroke.
“Jadi dia harus istilahnya penyesuaian kondisi. Terpapar panasnya dia harus menyesuaikan, terus aktivitas larinya misalnya dia harus sesuaikan, tidak langsung 5 kilometer, 10 kilometer. Jadi bertahap,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....