Gen Z dan Gen Alpha Dinilai Lebih Sensitif, Ini Kata Psikolog
- 03 Jun 2026 13:55 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Generasi Z (Gen Z) dan Generasi Alpha (Gen Alpha) kerap mendapat label sebagai generasi yang lebih sensitif dibandingkan generasi sebelumnya. Anggapan tersebut muncul karena kedua generasi ini dinilai lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaan, pendapat, hingga kondisi mental yang mereka alami. Namun, apakah benar mereka lebih sensitif atau justru lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental?
Dalam sebuah diskusi yang membahas karakteristik generasi muda, Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) HIMPSI Kalimantan Timur, Ayunda Ramadhani, menjelaskan bahwa pandangan tersebut perlu dilihat dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, keterbukaan Gen Z dan Gen Alpha terhadap isu kesehatan mental sering kali disalahartikan sebagai sikap yang terlalu sensitif.
"Faktanya mereka lebih melek dengan isu kesehatan mental. Makanya dikit-dikit speak up tentang apa yang mereka rasakan," ujar Ayunda, dikutip Rabu 3 Juni 2026.
Ia menilai, keberanian menyampaikan perasaan merupakan bentuk kesadaran diri yang berkembang di kalangan generasi muda saat ini. Ayunda menjelaskan, kebutuhan akan validasi menjadi salah satu aspek penting dalam perkembangan psikologis Gen Z dan Gen Alpha. Mereka tidak hanya ingin diapresiasi saat berhasil, tetapi juga ingin dipahami ketika mengalami kegagalan.
"Anak sekarang ini butuh validasi. Mereka butuh diperhatikan tidak hanya ketika berhasil, tetapi juga ketika gagal," katanya.
Menurutnya, banyak orang tua masih memandang kegagalan sebagai tanda kurangnya usaha. Padahal, bagi generasi muda saat ini, kegagalan merupakan bagian dari proses belajar dan pengembangan diri. Di sisi lain, tekanan dari media sosial dan banjir informasi digital membuat mereka lebih rentan mengalami kelelahan mental atau burnout.
"Sehingga sebenarnya dianggap lebih sensitif, padahal mereka sudah punya awareness yang bagus tentang kondisi mental mereka," ucap Ayunda.
Kesadaran inilah yang membuat Gen Z dan Gen Alpha lebih berani menyampaikan ketidaknyamanan, ketidaksetujuan, maupun emosi yang mereka rasakan. Lebih lanjut, Ayunda menilai perbedaan pola komunikasi menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dalam mendampingi anak-anak dari generasi digital.
Pendekatan otoriter yang dahulu dianggap efektif kini mulai kehilangan relevansinya. Generasi saat ini lebih membutuhkan komunikasi dua arah yang melibatkan diskusi dan kesepakatan bersama. "Mendekati Gen Z dan Gen Alpha tidak bisa lagi hanya dengan perintah. Mereka lebih membutuhkan pendekatan yang negosiatif dan demokratis," ujar Ayunda.
Menurutnya, orang tua perlu melibatkan anak dalam pengambilan keputusan sederhana agar tercipta rasa tanggung jawab dan kedekatan emosional. Ia mencontohkan, kesepakatan mengenai waktu belajar, bermain gim, hingga penggunaan media sosial dapat dibicarakan bersama. Dengan cara tersebut, anak merasa didengar dan dihargai, sementara orang tua tetap dapat memberikan arahan yang diperlukan.
Selain itu, Ayunda menekankan hubungan yang sehat antara orang tua dan anak harus dibangun melalui komunikasi yang terbuka. Orang tua juga perlu menyadari bahwa mereka tidak selalu benar dan harus bersedia menerima masukan dari anak. "Orang tua juga harus bersedia dikritik karena orang tua bukan orang yang selalu benar," katanya.
Pada akhirnya, label "sensitif" yang sering disematkan kepada Gen Z dan Gen Alpha tidak selalu bermakna negatif. Di balik keterbukaan mereka dalam mengekspresikan emosi, terdapat kesadaran yang lebih baik mengenai kesehatan mental dan pentingnya komunikasi yang sehat. Oleh karena itu, memahami karakteristik generasi muda dengan pendekatan yang tepat menjadi kunci untuk membangun hubungan yang harmonis antara anak dan orang tua di era digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....