Kunci Sukses Menyusui Adalah Dengan Ketenangan Psikis Ibu dan Dukungan Keluarga

  • 30 Jun 2026 09:54 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Keberhasilan program ASI eksklusif selama enam bulan pertama ternyata tidak hanya bertumpu pada kesiapan fisik ibu, melainkan sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis. Tekanan mental, kecemasan, serta kurangnya dukungan dari lingkungan terdekat sering kali menjadi pemicu utama mampetnya produksi kelenjar susu. Edukasi psikologis bagi keluarga dinilai sama pentingnya dengan intervensi medis dalam menjaga keberlangsungan masa menyusui.

Hal itu disampaikan Bidan Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda, Rahely Nidowati, dalam dialog interaktif Dokter Etam pada 26 Juni 2026. Ia mengungkapkan persepsi "ASI kurang" yang sering dikeluhkan ibu baru umumnya berakar dari rasa panik. Ketika seorang ibu dilanda kecemasan pada hari-hari pertama pascamelahirkan, otak secara otomatis akan menahan pelepasan hormon krusial pembentuk susu. Pengondisian lingkungan sekitar yang minim tekanan menjadi prasyarat mutlak agar proses alamiah ini berjalan lancar.

"Untuk ibu menyusui itu ada beberapa permasalahan, seperti dari psikis ibunya. Ibunya cemas, ibunya khawatir, ibunya merasa enggak mampu memberikan ASI," ujar Rahely, dikutip Selasa 30 Juni 2026. Hambatan emosional seperti ini membutuhkan intervensi berupa motivasi dan afirmasi positif yang konsisten dari suami dan keluarga besar.

Secara ilmiah, produksi ASI digerakkan oleh refleks saraf sensorik dari isapan bayi yang merangsang kelenjar hipofisis di otak ibu. Proses ini mengaktifkan hormon prolaktin sebagai pembuat susu dan hormon oksitosin yang bertugas memancarkan cairan tersebut keluar. Hormon oksitosin ini sangat sensitif terhadap suasana hati, di mana hormon akan melimpah saat ibu merasa bahagia dan dicintai.

Menurut Rahely, ikatan emosional awal atau bonding dapat dibangun dengan meletakkan bayi sedini mungkin di dada ibu setelah proses persalinan. "Dengan ibunya merasa lebih nyaman, ibunya merasa lebih rileks, ibunya merasa bahagia nih ada bayinya, itu secara alamiah membantu proses pengeluaran ASI," ujarnya lebih dalam mengenai mekanisme hormon kebahagiaan tersebut.

Selain masalah beban psikis harian, tantangan berat lainnya muncul dari derasnya arus mitos kesehatan keliru yang beredar di tengah masyarakat. Salah satu kekeliruan fatal yang masih dipercaya adalah menganggap kolostrum pertama yang berwarna kuning sebagai ASI yang kotor atau basi. Stigma sosial yang salah seperti ini kerap membuat para ibu baru merasa rendah diri dan beralih ke susu formula.

"Mitosnya itu kalau kolostrum ASI yang pertama keluar warna kuning pekat tadi dibilang mereka ASI basi. Padahal itu tinggi antibodi," ujarnya mematahkan anggapan keliru masyarakat. Dukungan penuh dari keluarga untuk menyaring mitos negatif terbukti menjadi tameng psikologis terbaik bagi ibu dalam menjaga kuantitas produksinya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....