Teknik Perlekatan Tepat dan Manajemen ASI Perah guna Cegah Stunting
- 30 Jun 2026 09:41 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Penerapan teknik menyusui yang benar serta manajemen penyimpanan ASI perah yang higienis menjadi strategi krusial dalam menekan angka stunting nasional. Kesalahan fatal dalam posisi menyusui dan ketidaktahuan metode penyimpanan susu sering kali memicu kegagalan pemenuhan gizi anak, terutama bagi ibu yang aktif bekerja. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan teknis menyusui wajib dimiliki demi menjamin hak nutrisi bayi secara optimal.
Bidan dari RS Dirgahayu Samarinda, Rahely Nidowati, mengatakan stunting merupakan gangguan tumbuh kembang nyata yang bisa diantisipasi sejak dini lewat ASI eksklusif. Namun, banyak ibu mengalami kendala fisik seperti puting lecet dan nyeri hebat akibat kesalahan posisi menempelnya mulut bayi. Kondisi cedera fisik ini jika dibiarkan akan membuat proses menyusui terhenti di tengah jalan.
"Puting lecet terjadi karena perlekatan mulut pada bayi itu tidak sampai ke areola. Jadi mulut bayi itu harus sampai ke areola biar enggak sakit," ujar Rahely secara detail mengenai anatomi menyusui pada dialog Dokter Etam, dikutip Selasa 30 Juni 2026. Perlekatan yang tidak sempurna membuat bayi hanya mengisap ujung puting, sehingga mengosongkan payudara menjadi tidak maksimal.
Prinsip produksi kelenjar ASI bekerja berdasarkan hukum permintaan (supply and demand), di mana semakin sering dikosongkan, semakin banyak susu diproduksi. Bagi kalangan ibu pekerja, pengosongan payudara secara berkala setiap dua hingga tiga jam melalui pompa khusus adalah solusi mutlak. Cairan hasil perahan tersebut kemudian harus dikelola dengan pembekuan di dalam lemari pendingin agar zat gizi di dalamnya tidak rusak.
Rahely membagikan prosedur ketat bahwa ASI perah di dalam freezer khusus bisa bertahan berbulan-bulan, namun memiliki batas waktu setelah dicairkan. "Setelah kita cairkan dari beku tadi itu 24 jam harus habis. Tetapi setelah kita hangatkan hanya 2 jam," ucapnya memperingatkan batas aman konsumsi. Proses menghangatkan pun dilarang menggunakan air mendidih agar struktur protein susu tidak pecah.
Penyajian ASI perahan secara taktis dan higienis ini memegang peranan vital dalam menyokong agenda besar pemerintah pusat dalam memerangi masalah gizi buruk. Pemenuhan ASI murni tanpa tambahan makanan lain hingga usia enam bulan akan memperkuat sistem imunitas dan struktur motorik anak. Hal ini menjadi benteng pertahanan pertama tubuh anak dari ancaman stunting.
"Tujuan dari pemberian ASI adalah untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan bayi. Makanya kenapa program pemerintah itu bagaimana ASI eksklusif harus diberikan, yaitu untuk mencegah namanya stunting," kata Rahely di akhir dialog. Kombinasi teknik menyusui yang tepat dan manajemen penyimpanan yang benar menjadi kunci anak tumbuh sehat dan cerdas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....