Memahami Aliran Perasaan dalam Perspektif Psikologi
- 24 Jun 2026 20:39 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Dalam kajian psikologi, emosi sering dipahami sebagai respons alami tubuh terhadap realitas yang dialami manusia. Emosi bukan sekadar perasaan abstrak, melainkan sinyal biologis yang memberi informasi penting tentang kondisi diri. Hal ini sejalan dengan penjelasan seorang spesialis kedokteran jiwa, Jiemi Ardian, dalam sebuah podcast edukasi kesehatan di laman youtubenya.
Menurutnya, emosi dapat dipandang sebagai “bahasa tubuh” yang menyampaikan kebutuhan atau peringatan tertentu. Misalnya, rasa lapar menandakan kebutuhan makan, sementara rasa takut muncul sebagai respons terhadap ancaman. “Emosi itu sebenarnya rasa, terasa di badan, dia adalah respons terhadap realita sebagai penanda adanya sesuatu,” ujar Jiemi, dikutip Rabu 24 Juni 2026.
Lebih jauh dijelaskan, emosi seperti marah, sedih, kecewa, atau kesepian memiliki fungsi masing-masing sebagai sinyal psikologis. Marah berkaitan dengan ketidakadilan, sedangkan sedih berkaitan dengan kehilangan. “Marah itu ngomong banyak soal ketidakadilan, sedih itu ngomong soal kehilangan,” kata Jiemi dalam penjelasannya mengenai fungsi emosi.
| Baca juga: Inner Child Bisa Memicu Emosi Tak Terkendali |
| Baca juga: Psikiater Ungkap Fakta Baru tentang Emosi |
Namun, tidak semua emosi dapat mengalir dengan bebas dalam pengalaman hidup seseorang. Dalam banyak kasus, emosi justru tertahan karena lingkungan atau bahkan diri sendiri tidak memberikan ruang untuk mengekspresikannya. “Emosi itu seharusnya mengalir, kalau ditahan dia akan nyangkut,” ucapnya.
Pengalaman masa lalu yang tidak terselesaikan secara emosional dapat membentuk apa yang disebut sebagai memori traumatik. Memori ini dapat muncul kembali ketika seseorang menghadapi pemicu tertentu. “Kalau emosi tidak dibiarkan mengalir, dia akan menetap dan menjadi memori traumatik,” katanya.
Dalam kehidupan sosial, sering kali seseorang tanpa sadar menghalangi proses alami emosi. Misalnya, saat berduka, seseorang justru diminta untuk “tidak terlalu larut” dalam kesedihan. Ia menyoroti fenomena ini menunjukkan adanya penolakan sosial terhadap ekspresi emosi. “Sering kali emosi itu bukan dibiarkan mengalir, tapi distop: jangan nangis, jangan sedih,” ujarnya.
Selain faktor lingkungan, ada pula faktor internal berupa konflik dalam diri sendiri yang membuat emosi sulit mengalir. Seseorang bisa merasa takut terhadap emosinya sendiri, seperti takut sedih akan membuatnya terpuruk atau kehilangan kendali. “Kadang ada bagian diri kita yang tidak mau menanggung rasa sakit itu,” ucapnya.
Proses penyembuhan emosional, menurut pendekatan ini, bukan berarti menghilangkan emosi secara paksa, melainkan membiarkannya mengalir hingga selesai dengan sendirinya. “Emosi tidak perlu dilawan, dia akan datang, memuncak, lalu berlalu,” kata Jiemi.
Dengan memahami emosi memiliki aliran alami, manusia diharapkan tidak lagi menghindari atau menekan perasaan yang muncul. Justru dengan mengizinkan emosi hadir dan berjalan sebagaimana mestinya, proses pemulihan psikologis dapat terjadi secara lebih sehat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....