Psikiater Ungkap Fakta Baru tentang Emosi
- 24 Jun 2026 12:40 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Banyak orang menganggap emosi seperti sedih, senang, marah, takut, cemas, atau kecewa sebagai sesuatu yang pasti dan memiliki bentuk yang sama pada setiap individu. Namun, pandangan tersebut mendapat penjelasan berbeda dari dokter spesialis psikiatri, Jiemi Ardian.
Dalam sebuah podcast yang tayang di kanal youtube @malakaprojectid, Jiemi menjelaskan yang benar-benar dirasakan manusia secara langsung adalah afek, sedangkan emosi merupakan konstruksi yang terbentuk melalui pengalaman, lingkungan, bahasa, dan cara seseorang memaknai suatu peristiwa.
"Bagaimana kalau saya bilang bahwa emosi seperti sedih, senang, takut, cemas, kecewa, dan gelisah sebenarnya tidak nyata?" ujar Jiemi saat membuka penjelasannya, dikutip Rabu 24 Juni 2026.
Menurutnya, afek adalah sensasi dasar yang muncul sebagai respons terhadap berbagai rangsangan, baik dari luar maupun dari dalam diri seseorang. Afek dapat berupa rasa nyaman atau tidak nyaman, serta kondisi tenang atau terangsang secara emosional.
Ia menjelaskan, seseorang yang bersantai di pantai mungkin merasakan kombinasi nyaman dan tenang. Sementara orang yang sedang berpesta dapat merasakan nyaman namun penuh energi. Di sisi lain, seseorang yang baru mengalami patah hati bisa berada dalam kondisi tidak nyaman tetapi tetap tenang.
Lebih lanjut, ia menegaskan afek sudah dimiliki manusia sejak bayi. Ketika bayi menangis atau tersenyum, hal tersebut belum dapat disebut sebagai emosi dalam pengertian yang kompleks.
"Afek adalah sensasi yang memang kita rasakan terkait sebuah kejadian. Ketika bayi menangis atau tersenyum, itu bukan emosi, melainkan afek," katanya.
Dalam dunia psikologi modern, terdapat teori yang menyebutkan emosi memiliki ekspresi universal yang sama di seluruh budaya. Namun menurut Jiemi, penelitian terbaru menunjukkan emosi tidak selalu memiliki pola ekspresi yang identik pada setiap orang.
Seseorang yang merasa takut, misalnya, dapat menunjukkan respons yang berbeda-beda. Ada yang berlari, ada yang diam membeku, bahkan ada yang tetap tersenyum dalam situasi tertentu.
"Variasi respons terhadap emosi adalah sesuatu yang normal. Tidak ada satu bentuk ekspresi yang selalu sama pada semua orang," ujar Jiemi.
Ia juga menjelaskan, hingga saat ini para peneliti belum menemukan satu bagian otak yang secara spesifik menjadi pusat tunggal bagi emosi tertentu. Otak manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi melalui kerja berbagai area yang saling mendukung.
Menurutnya, cara pandang yang lebih tepat adalah melihat emosi sebagai konstruksi yang dibangun dari pengalaman hidup, lingkungan sosial, budaya, dan bahasa yang dipelajari seseorang.
Ia mencontohkan seorang anak yang sejak kecil terbiasa berinteraksi dengan ular melalui hobi ayahnya. Anak tersebut kemungkinan akan memiliki perasaan berbeda ketika melihat ular dibandingkan anak yang hanya mendengar cerita bahwa ular adalah hewan berbahaya.
"Emosi sebenarnya adalah konstruksi. Konstruksi itu dibangun dari pengalaman, memori, dan lingkungan sosial yang kita miliki," katanya.
Dalam penjelasannya, ia juga menyoroti pentingnya bahasa dalam membentuk pengalaman emosional manusia. Bahasa memungkinkan seseorang memberi nama pada pengalaman tertentu sehingga menjadi bagian dari cara berpikir dan merasakan.
"Bahasa memungkinkan manusia membangun dan berbagi konstruksi yang kemudian kita kenal sebagai emosi," ucapnya.
Meski menyebut emosi sebagai konstruksi sosial, ia menegaskan hal tersebut tidak berarti emosi menjadi tidak penting atau tidak valid. Menurutnya, emosi tetap nyata dalam konteks pengalaman manusia, sebagaimana uang dianggap nyata karena disepakati dan digunakan oleh masyarakat.
"Emosi valid seperti uang itu valid. Kita sepakat bersama bahwa itu memiliki makna dan pengaruh dalam kehidupan," ujarnya.
Namun, ia mengingatkan seseorang tidak seharusnya langsung memvalidasi setiap emosi tanpa memahami sumber kemunculannya terlebih dahulu. Penting untuk memeriksa pengalaman, keyakinan, dan makna yang membentuk emosi tersebut.
"Jangan langsung memvalidasi emosi sebelum memeriksa dari mana emosi itu berasal," kata Jiemi.
Menurutnya, manusia bukan sekadar objek pasif yang menerima berbagai peristiwa. Sebaliknya, setiap individu memiliki peran aktif dalam membentuk makna dan realitas yang memengaruhi perasaan mereka.
"Kita bukan hanya pihak yang menerima pemicu dari luar. Kita juga berperan dalam membentuk realitas yang kita rasakan," ucapnya.
Pemahaman tersebut dinilai penting untuk membantu seseorang mengelola emosi secara lebih sehat, kritis, dan tidak mudah terjebak pada asumsi yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....