Banyak Aktivitas Digital Jadi Alasan Orang Menunda Membalas Chat

  • 23 Jun 2026 09:30 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID - Kebiasaan menunda membalas pesan instan kerap dianggap sebagai tanda ketidakpedulian. Padahal, kondisi tersebut tidak selalu mencerminkan sikap seseorang terhadap lawan bicaranya. Psikolog dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) HIMPSI Kalimantan Timur, Rizqi Syafrina, dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2, dikutip Rabu, 23 Juni 2026 menilai ada berbagai faktor psikologis dan situasional yang membuat seseorang tidak segera merespons pesan yang masuk.

Menurut Rizqi, chat berbeda dengan panggilan telepon. Telepon umumnya dipersepsikan sebagai komunikasi yang lebih mendesak dan membutuhkan respons secara langsung, sedangkan pesan instan tidak selalu menuntut balasan saat itu juga. Di sisi lain, banyaknya grup percakapan membuat seseorang belum tentu menganggap setiap pesan berkaitan langsung dengan dirinya.

“Chat itu kan bukan sesuatu yang urgent ya, beda dengan telepon yang biasanya penting dan perlu dijawab secara real time. Sedangkan chat itu kan ada kadang di banyak grup ya dan belum tentu chatnya berkaitan dengan kita, bisa jadi anggapannya orang tidak langsung melihat dan membalas karena juga tidak real time begitu,” ujarnya.

Fenomena tersebut sejalan dengan sejumlah penelitian terkait kelelahan komunikasi digital. Studi mengenai instant messaging fatigue menemukan banjir pesan, tuntutan sosial, dan kelebihan komunikasi dapat memicu kelelahan dalam penggunaan aplikasi pesan instan sehingga seseorang cenderung menunda atau mengurangi respons terhadap pesan yang diterima.

Rizqi menjelaskan, ponsel saat ini tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi. Berbagai aktivitas lain seperti menonton video, bermain gim, membaca informasi, hingga mengakses media sosial turut menyita perhatian pengguna. Kondisi tersebut memunculkan kecenderungan menunda membalas pesan yang dianggap tidak mendesak.

“Apalagi sekarang HP itu tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, biasanya kita juga scroll TikTok, bermain, membaca, ada banyak aktivitas lain yang biasanya kita lakukan di handphone sehingga memicu perasaan menunda membalas chat yang dirasa tidak begitu urgent,” katanya.

Selain faktor distraksi, membalas pesan juga membutuhkan proses berpikir. Rizqi menilai komunikasi tertulis memiliki tantangan tersendiri karena pesan dapat ditafsirkan berbeda oleh penerima. Akibatnya, seseorang terkadang memerlukan waktu lebih lama untuk menyusun respons agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Nah sedangkan chat dari yang langsung berkaitan dengan kita itu biasanya kita butuh waktu berpikir untuk membalas karena kadang bahasa chat itu berbeda dengan ngobrol, bisa jadi nanti salah tulis, salah persepsi dan bisa menimbulkan salah paham begitu,” ucapnya.

Karena itu, Rizqi mengingatkan agar keterlambatan membalas pesan tidak selalu dimaknai sebagai bentuk ketidakpedulian. Rasa lelah setelah beraktivitas seharian, perhatian yang mudah teralihkan, hingga lupa membalas setelah terdistraksi aktivitas lain juga dapat menjadi penyebab seseorang tidak segera merespons pesan. Penelitian tentang kelebihan informasi di ruang digital juga menunjukkan kapasitas manusia dalam memproses informasi memiliki batas, sehingga paparan pesan dan notifikasi yang terlalu banyak dapat menurunkan responsivitas pengguna.

“Kadang-kadang ada rasa takut buka chat juga karena menghindari tugas yang menumpuk, sehingga ada perilaku menghindari untuk memproses dan mempersiapkan diri menerima tugas yang diberikan. Belum lagi sekarang ini hampir semua orang 24 jam dengan handphonenya, dengan banyaknya media sosial yang kita miliki banyak juga informasi yang kita terima dari situ, padahal manusia butuh off dari distraksi media sosial tersebut karena otak manusia itu punya kapasitas menampung informasi, apalagi berita buruk atau konten yang membuat lelah,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....