Mengenal Jenis Gangguan Kecemasan dan Kapan Harus ke Dokter

  • 20 Jun 2026 21:08 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Masyarakat diimbau untuk lebih peka dan mengenali batas antara rasa cemas yang normal dengan gangguan kecemasan (anxiety disorder). Kecemasan yang bersifat klinis memerlukan penanganan medis yang serius agar tidak memburuk.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh dr. Nurulita, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari RSJD Atma Husada Mahakam Kaltim, dalam dialog Dokter Etam di RRI Samarinda pada Kamis, 4 Juni 2026. Menurutnya, cemas adalah emosi normal manusia saat menghadapi ancaman nyata, namun menjadi gangguan jika menetap secara irasional.

"Kondisi cemas yang normal muncul ketika ada ancaman atau objek yang secara umum menakutkan bagi semua orang," ujar dr. Nurulita. Namun, pada gangguan kecemasan, rasa takut tersebut tidak lagi sejalan dengan realita objektif.

Gangguan kecemasan memiliki tanda-tanda khusus yang dapat diidentifikasi lewat gejala fisik dan psikis. Seseorang yang mengalaminya sering kali merasakan jantung berdebar kencang, nyeri perut hilang timbul, keringat dingin, hingga sesak napas.

Secara klinis, gangguan kecemasan terbagi menjadi beberapa jenis atau kluster, salah satunya adalah kluster fobia. Dr. Nurulita menjelaskan bahwa fobia ini terbagi lagi menjadi fobia sosial, agorafobia, dan fobia spesifik.

"Fobia sosial terjadi ketika penderita sangat takut berinteraksi atau menjadi pusat perhatian," kata dr. Nurulita. Sementara itu, agorafobia membuat penderita takut berada di situasi yang sulit untuk meloloskan diri, seperti di jalan tol atau kereta api.

Selain fobia, jenis lain yang sering ditemui adalah Gangguan Cemas Menyeluruh (GAD) dan Gangguan Panik. GAD membuat penderita merasa cemas sepanjang hari tanpa objek yang jelas, sedangkan gangguan panik memicu serangan hebat secara tiba-tiba.

Jika kecemasan sudah mengganggu aktivitas harian seperti sekolah atau kerja, intervensi profesional medis harus segera dilakukan. "Sebaiknya itu harus segera ke rumah sakit atau ke profesional untuk mendapatkan pemeriksaan ataupun pengobatan," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....