Gen Z dan Gen Alpha: antara Stigma dan Fakta, Generasi Aktif yang Perlu Dipahami

  • 03 Jun 2026 12:54 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Perbedaan antargenerasi sering kali menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Generasi Z (Gen Z) dan Generasi Alpha (Gen Alpha) tidak luput dari berbagai stereotip yang berkembang. Gen Z kerap dianggap sebagai generasi yang terlalu banyak berpikir atau overthinking, sementara Gen Alpha sering diberi label sebagai generasi yang tidak bisa lepas dari gawai. Padahal, berbagai anggapan tersebut belum tentu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

Dalam talk show di Pro2 RRI Samarinda, menyoroti fenomena pelabelan terhadap kedua generasi tersebut. Stigma yang selama ini berkembang perlu diluruskan agar masyarakat dapat melihat Gen Z dan Gen Alpha secara lebih objektif, karena tidak semua label yang melekat pada suatu generasi dapat dijadikan ukuran yang akurat.

Salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjadi narasumber dari Gen Z, Ida Ayu Ardythami Dewi Pastisya atau yang akrab disapa Ami, memberikan gambaran mengenai aktivitas kesehariannya. Sebagai ASN, ia tidak hanya fokus bekerja, tetapi juga aktif mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan.

“Biasa kesehariannya tentu dari Senin sampai Jumat bekerja, terus di hari Jumat sore biasanya hobi saya adalah berenang free dive, mengikuti komunitas free diving, menari, dan mendalami cara mengajar kepada adik-adik,” kata Ami, dikutip Rabu 3 Juni 2026.

Aktivitas tersebut membuktikan, Gen Z tidak hanya berkutat pada dunia digital, melainkan juga aktif membangun relasi dan mengembangkan keterampilan. Lebih lanjut, Ami menjelaskan berbagai kegiatan yang dijalaninya menjadi sarana untuk menjaga keseimbangan hidup.

“Refreshing-nya itu mengembangkan hobi-hobi tadi dan mengikuti relasi-relasi seperti networking ke organisasi atau komunitas,” ucapnya.

Pernyataan ini memperlihatkan banyak anggota Gen Z yang mampu mengelola waktu antara pekerjaan, pengembangan diri, dan kehidupan sosial secara seimbang.

Sementara itu, perwakilan Gen Alpha, Muhammad Jamil, menunjukkan generasinya juga tidak hanya terpaku pada penggunaan gawai. Sebagai siswa SMA, ia aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

“Kegiatan saya selama di sekolah ini tidak hanya belajar saja, tapi organisasi MPK di sekolah. Ada juga ikut ekstrakurikuler ekonomi dan paduan suara,” ucapnya.

Keterlibatan dalam berbagai kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa Gen Alpha memiliki semangat belajar dan berorganisasi yang tinggi. Jamil juga menepis anggapan Gen Alpha cenderung pasif dalam lingkungan pendidikan.

“Jadi juga tidak hanya menetap, stigma dari Gen Alpha ini, kami juga aktif di pembelajaran sekolah, ekstrakurikuler ataupun juga kegiatan akademiknya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan generasi yang lahir dan tumbuh di era digital tetap memiliki ketertarikan untuk berprestasi serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan positif.

Menariknya, di balik kesibukan dan aktivitas yang padat, kedua generasi ini tetap memiliki sisi pribadi yang tidak selalu diketahui banyak orang. Pada akhirnya, Gen Z dan Gen Alpha adalah generasi yang memiliki tantangan sekaligus potensi besar di era modern. Pelabelan yang berlebihan justru dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami karakter mereka.

Fakta yang terungkap dari pengalaman para narasumber menunjukkan bahwa kedua generasi ini aktif, produktif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, masyarakat perlu melihat Gen Z dan Gen Alpha berdasarkan realitas yang ada, bukan sekadar asumsi atau stereotip yang beredar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....