Melawan Stereotip, Gen Z dan Gen Alpha Menunjukkan Potensi Nyata di Era Digital
- 03 Jun 2026 13:23 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Perkembangan teknologi telah melahirkan generasi-generasi baru dengan karakteristik yang berbeda. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, Generasi Z (Gen Z) dan Generasi Alpha (Gen Alpha) kerap menjadi sasaran berbagai stereotip. Mulai dari anggapan Gen Z malas bekerja hingga tudingan Gen Alpha terlalu bergantung pada gawai. Namun, benarkah semua anggapan tersebut sesuai dengan kenyataan?
Dalam sebuah diskusi di RRI Samarinda, perwakilan dari Gen Z dan Gen Alpha berbagi pandangan mengenai kehidupan generasi mereka. Percakapan tersebut mengungkap fakta menarik bahwa banyak label yang selama ini melekat ternyata tidak sepenuhnya benar. Di balik berbagai stigma, kedua generasi ini justru memiliki semangat adaptasi, kreativitas, dan produktivitas yang tinggi.
Perwakilan Gen Z, Ida Ayu Ardiami Dewi Pastisia yang akrab disapa Ami, mengungkapkan salah satu hal yang ia sukai dari generasinya adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. "Kalau Gen Z itu aku suka jiwanya. Mereka penasaran, seru orangnya, terus cepat adaptif," ujar Ami, dikutip Rabu 3 Juni 2026.
Menurutnya, Gen Z juga dikenal lebih terbuka dalam menyampaikan pendapat dan semakin peduli terhadap isu kesehatan mental serta keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Ami juga menjelaskan, konsep work life balance sering kali disalahartikan oleh generasi lain. Banyak orang menganggap Gen Z kurang pekerja keras karena ingin memiliki waktu istirahat yang cukup. Padahal, menurutnya, produktivitas tidak selalu diukur dari lamanya seseorang bekerja. "Mereka senang menggaungkan mental health sama work life balance. Kerja itu enggak boleh kerja aja, tapi tetap harus ada liburannya," kata Ami.
Stigma lain yang sering diterima Gen Z adalah julukan "generasi stroberi", yaitu generasi yang dianggap lemah, mudah mengeluh, dan kurang tangguh menghadapi tekanan kerja. Menanggapi hal tersebut, Ami menjelaskan banyak kesalahpahaman terjadi karena perbedaan cara kerja antargenerasi.
"Ketika teknologi bisa membantu pekerjaan selesai lebih cepat, kadang kami dikira malas padahal kerja kami sudah selesai," ujar Ami.
Sementara itu perwakilan Gen Alpha, siswa SMAN 2 Samarinda, Muhammad Jamil, menilai generasinya memiliki keunggulan dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar. Ia menegaskan bahwa tidak semua anak Gen Alpha hanya menggunakan ponsel untuk bermain gim atau berselancar di media sosial.
"Yang saya senang dari Gen Alpha itu mereka pintar mencari informasi dari teknologi. Jadi kita bisa mengandalkan teknologi sebagai alat inspirasi atau alat bantu," ucap Jamil.
Pernyataan ini menunjukkan, efisiensi kerja sering kali disalahartikan sebagai kemalasan. Di sisi lain, Gen Alpha juga tidak luput dari stereotip sebagai generasi yang kecanduan teknologi. Namun, Jamil menilai bahwa teknologi justru menjadi kebutuhan penting dalam proses pembelajaran modern.
"Bisa saja kami menggunakan Instagram atau TikTok sebagai pembelajar untuk mencari beasiswa, cara belajar yang lebih efektif, dan berbagai pengetahuan lainnya," kata Jamil. Hal ini membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi alat pengembangan diri apabila digunakan secara bijak.
Ketika membahas tantangan yang dihadapi anak muda saat ini, Ami mengungkapkan bahwa tekanan sosial menjadi salah satu beban terbesar bagi Gen Z. Banyak orang masih mengukur kesuksesan dengan standar yang sama, padahal setiap individu memiliki jalan hidup yang berbeda.
Menurutnya, generasi muda saat ini lebih memilih untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, dan kesiapan diri sebelum mengambil langkah besar dalam kehidupan. Sementara itu, Jamil mengaku tekanan terbesar bagi Gen Alpha yang masih berstatus pelajar adalah banyaknya tugas dan tuntutan akademik.
"Kami ini hidup untuk mengerjakan tugas dan belajar. Jadi itu tekanan yang betul-betul capek banget," ucapnya. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa di balik citra generasi digital, mereka juga menghadapi tantangan pendidikan yang tidak ringan.
Pada akhirnya, baik Gen Z maupun Gen Alpha memiliki karakteristik, tantangan, dan keunggulan masing-masing. Stereotip yang berkembang di masyarakat tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya.
Justru, kedua generasi ini menunjukkan kemampuan beradaptasi yang tinggi, pemanfaatan teknologi yang positif, serta semangat untuk terus berkembang di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, memahami mereka melalui fakta dan pengalaman nyata jauh lebih penting daripada sekadar mempercayai label yang beredar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....