Trauma Kolektif Makin Nyata di Era Media Sosial

  • 03 Jun 2026 08:23 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Fenomena trauma kolektif belakangan semakin sering menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Berbagai peristiwa yang menimbulkan rasa takut, cemas, hingga ketidakpastian dapat memengaruhi banyak orang secara bersamaan, terlebih dengan derasnya arus informasi di media sosial.

Psikolog Ikatan Psikolog Klinis (IPK) HIMPSI Kalimantan Timur, Anang Arief Abdillah, menjelaskan bahwa trauma kolektif merupakan istilah umum yang menggambarkan kondisi ketika sekelompok masyarakat merasa tidak aman atau terancam oleh suatu peristiwa yang dianggap membahayakan nyawa, materi, maupun masa depan mereka.

Menurut Anang, trauma dapat muncul dalam bentuk fisik maupun psikologis. Pada konteks kelompok, trauma sering terjadi setelah masyarakat menerima informasi mengenai bencana atau peristiwa besar yang memicu kepanikan bersama. Kondisi tersebut kemudian berkembang menjadi respons emosional yang dirasakan oleh banyak orang secara bersamaan.

“Trauma adalah situasi yang kita rasakan ketika pengalaman menjadi tidak nyaman. Kondisi ini kemudian dapat berkembang menjadi kecemasan, depresi, atau rasa grogi yang berkepanjangan,” ujar Anang.

Ia menjelaskan, trauma kolektif berbeda dengan trauma individu. Pada trauma individu, dampak psikologis lebih banyak dirasakan oleh satu orang dan belum tentu dipahami oleh lingkungan sekitarnya. Seseorang yang mengalami trauma bahkan bisa merasa tidak mendapat dukungan ketika pengalaman yang dialaminya dianggap sepele oleh orang lain.

Sementara itu, trauma kolektif memiliki dinamika yang lebih kompleks karena melibatkan banyak individu dengan latar belakang, pengalaman, dan kepribadian yang berbeda. Dalam sebuah kelompok, kepanikan yang dirasakan satu orang dapat memengaruhi persepsi orang lain sehingga respons emosional menyebar lebih luas. Kondisi ini membuat trauma kolektif menjadi seperti pisau bermata dua yang dapat memperkuat rasa solidaritas sekaligus memperbesar dampak negatif jika tidak dikelola dengan baik.

Anang menambahkan bahwa perkembangan media sosial menjadi salah satu faktor yang membuat trauma kolektif semakin sering muncul dan dibahas saat ini. Informasi mengenai peristiwa traumatis tidak lagi hanya hadir secara langsung, tetapi juga tersebar melalui berbagai platform digital yang algoritmanya sulit diprediksi. Akibatnya, masyarakat dapat terus terpapar informasi yang memicu kecemasan, bahkan ketika mereka tidak mengalami peristiwa tersebut secara langsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....