Dampak Sosial di Balik Batasan Usia Masuk SD: Siapkah Mental Anak?

  • 24 Mei 2026 19:47 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kebijakan mengenai syarat batas usia minimal masuk Sekolah Dasar (SD) terus memicu perdebatan hangat di kalangan orang tua dan praktisi pendidikan di Samarinda. Banyak orang tua bersikeras memasukkan anak mereka ke jenjang SD di usia yang terlalu dini dengan dalih anak sudah menunjukkan tanda-tanda cerdas secara kognitif.

Fenomena pergeseran sosial dan ambisi orang tua ini menjadi sorotan utama psikolog Afifah Putri Ayu Rahayu dalam dialog edukasi masyarakat melalui segmen Dokter Etam yang disiarkan langsung oleh Pro 4 RRI Samarinda, Kamis, 14 Mei 2026. Diskusi ini berfokus pada dampak jangka panjang terhadap interaksi sosial anak di lingkungan sekolah yang heterogen.

Dari sudut pandang perkembangan sosial, Afifah menjelaskan bahwa anak yang dimasukkan ke sekolah formal terlalu cepat sering kali mengalami ketertinggalan dalam kematangan adaptasi kelompok. Mereka cenderung kesulitan berbagi peran, rentan menjadi korban perundungan, atau justru menarik diri dari pergaulan karena merasa berbeda secara emosional dengan teman sekelasnya yang lebih tua.

Edukasi publik secara masif dinilai mendesak untuk mengubah pola pikir salah kaprah di masyarakat yang mengagungkan kemampuan kognitif di atas segalanya. Sekolah dan lingkungan sosial diharapkan dapat berjalan beriringan untuk menciptakan ekosistem transisi yang ramah bagi anak usia dini.

"Kita perlu menyadari bahwa anak yang secara akademis mampu membaca, belum tentu siap secara sosial untuk mengantre, berbagi mainan, atau menyelesaikan konflik kecil dengan temannya. Batasan usia yang ditetapkan dalam regulasi sebenarnya dibuat demi melindungi fase tumbuh kembang sosial anak itu sendiri," ujar Afifah.

Lebih lanjut, dialog tersebut mengkritisi tren kompetisi terselubung antar-orang tua di media sosial yang sering memamerkan pencapaian belajar anak secara berlebihan. Tekanan sosial inilah yang secara tidak langsung memaksa orang tua mengambil jalan pintas akademis tanpa memedulian kematangan psikososial anak.

"Jangan jadikan masa anak-anak sebagai ajang pembuktian ego orang tua. Biarkan mereka bertumbuh sesuai dengan tugas perkembangannya. Ketika fondasi sosial dan emosionalnya kokoh, maka proses belajar akademis di sekolah formal ke depan akan mengalir dengan jauh lebih mudah dan tanpa paksaan," kata Afifah sebagai penutup.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....