Psikolog Samarinda: Flexing Medsos dan Curhat ke AI Picu Kecemasan Pekerja
- 24 Mei 2026 19:45 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Paparan informasi yang masif di media sosial seperti LinkedIn dan Instagram kini menjadi bumerang bagi kesehatan mental para pekerja di Samarinda. Tren memamerkan kebahagiaan karier, pencapaian kerja baru, hingga kenaikan gaji secara digital tanpa sadar telah menumbuhkan budaya membandingkan diri yang memperparah kecemasan sosial.
Fenomena pergeseran pemicu kecemasan ini disoroti secara tajam oleh praktisi psikologi, R.R. Rani Meita Pratiwi, dalam dialog interaktif Dokter Etam di Studio Pro 4 RRI Samarinda, Kamis 7 Mei 2026. Ia menilai akses informasi yang tanpa batas membuat emosi negatif eksternal sangat mudah terinternalisasi ke dalam diri pekerja lokal.
Rani menyebutkan bahwa rasa iri melihat keberuntungan orang lain di media sosial sering kali membuat pekerja menyerah pada kariernya sendiri atau memicu asumsi negatif yang keliru. Padahal, apa yang tampak di dunia maya tidak pernah mencerminkan realitas perjuangan seseorang secara utuh di dunia nyata. "Melihat pencapaian orang lain itu manusiawi jika memicu rasa iri. Namun, solusinya adalah kembalikan fokus untuk mengevaluasi diri sendiri. Jangan sampai kita iri pada hasil orang lain, sementara kita sendiri tidak melakukan upaya atau perjuangan yang sama. Jadikan itu motivasi, bukan sumber kecemasan baru," ujar Rani.
Selain dampak media sosial, Rani juga mengkritisi tren baru di kalangan pekerja introvert yang memilih mencurahkan masalah emosional (curhat) kepada teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT. Menurutnya, validasi instan dari AI justru berpotensi menjebak pekerja dalam lingkaran cemas yang semu karena hilangnya interaksi sosial yang nyata.
Ia menegaskan bahwa manusia tetap membutuhkan umpan balik berupa kritik, saran, maupun respon nyata dari sesama manusia untuk melatih kontrol diri. Menghindari interaksi sosial dan terlalu bergantung pada sistem teknologi hanya akan membuat pekerja semakin terasing di lingkungan kerjanya.
"Curhat itu harus tetap dengan yang bernapas, dengan orang lain. AI hanya memberikan jawaban sesuai template dan sistem yang kita arahkan. Kita butuh feedback nyata dari lingkungan luar untuk belajar merefleksikan diri, agar kita sadar bahwa kita tidak sendirian menghadapi ketidakpastian ekonomi ini," kata Rani dalam siaran tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....