Kecemasan Kerja Meningkat di tengah Ancaman PHK, Psikolog Ingatkan Bahaya Burnout
- 24 Mei 2026 19:35 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Tekanan dunia kerja modern yang semakin dinamis, ditambah isu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), memicu meningkatnya gangguan kecemasan di kalangan pekerja. Ketidakpastian masa depan karier dan tuntutan performa tinggi dinilai menjadi faktor utama meningkatnya beban mental karyawan.
Kondisi tersebut dapat berdampak pada menurunnya konsentrasi hingga memicu burnout jika tidak ditangani dengan baik.
Psikolog Klinis Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, R.R. Rani Meita Pratiwi, mengungkapkan hal itu dalam program Dokter Etam di RRI Samarinda, dikutip Minggu 24 Mei 2026.
Menurut Rani, kecemasan kerja saat ini sudah memasuki tahap yang mengkhawatirkan karena mulai memengaruhi stabilitas emosi pekerja di luar jam kerja.
Ia menjelaskan, terdapat perbedaan mendasar antara stres kerja biasa dan gangguan kecemasan yang mengarah pada masalah kesehatan mental. Stres kerja umumnya bersifat sementara dan mereda setelah pekerjaan selesai atau saat pekerja pulang ke rumah. Sementara itu, kecemasan klinis terus muncul secara berlebihan dan tidak rasional.
“Kecemasan muncul ketika stres tidak teratasi. Pikiran menjadi ke mana-mana, menduga skenario terburuk di masa depan, bahkan mengkhawatirkan hal-hal global yang berada di luar kendali. Akibatnya, pekerja mudah lelah, kehilangan motivasi, serta menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung di lingkungan sosial,” ujarnya.
Rani juga menyoroti fenomena overthinking yang banyak dialami generasi muda dalam menghadapi ketidakpastian karier. Menurutnya, banyak pekerja ingin menyelesaikan seluruh persoalan masa depan secara instan, tetapi justru berujung pada perasaan tidak berdaya dan hilangnya kebahagiaan saat ini.
Sebagai langkah penanganan, ia menyarankan pekerja melatih pola pikir sadar atau mindfulness serta memperlambat ritme tubuh ketika rasa panik muncul. Teknik relaksasi pernapasan dinilai efektif untuk menurunkan ketegangan detak jantung dan membantu mengembalikan kendali emosi.
“Satu menit merasa cemas berarti menghilangkan 60 detik kebahagiaan hari ini. Triknya adalah fokus pada saat ini dan mengerjakan tugas satu per satu sesuai kapasitas. Kemampuan terbaik seseorang bukan diukur dari situasi yang serba pasti, melainkan bagaimana bertahan secara sehat di tengah ketidakpastian,” kata Rani.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....