Tantangan Kesehatan Mental Gen Z dan Pentingnya Dukungan Lingkungan Sosial
- 26 Apr 2026 04:25 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Generasi muda, khususnya Gen Z di Samarinda, kini menghadapi tantangan kesehatan mental yang unik akibat derasnya arus informasi dan tekanan media sosial. Perilaku membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di dunia maya sering kali menjadi pemicu stres dan rasa tidak berdaya yang berujung pada tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm).
Mahafuddin dari RSJD Atma Husada Mahakam mencatat adanya tren pasien usia sekolah yang masuk ke instalasi gawat darurat akibat luka sayatan. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah sekecil apa pun bagi orang dewasa bisa menjadi beban yang sangat berat bagi remaja yang secara emosional masih labil.
| Baca juga: Camilan Sehat Pengusir Kantuk |
"Pemicunya beragam, mulai dari masalah asmara hingga beban pendidikan seperti skripsi yang tak kunjung usai, yang bagi sebagian anak muda terasa sangat menekan hingga mereka memilih cara singkat," ujar Mahafuddin saat menjelaskan latar belakang pasien remaja yang ia tangani dalam dialog Dokter Etam Pro 4 RRI Samarinda, Kamis, 16 April 2026.
Stigma sosial terhadap rumah sakit jiwa masih menjadi kendala utama dalam penanganan kasus kesehatan mental. Banyak orang tua yang merasa malu atau menyangkal kondisi anaknya karena takut akan penilaian negatif dari tetangga, sehingga pengobatan medis sering kali terlambat dilakukan.
| Baca juga: Memahami Emosi, Keyakinan, dan Harga Diri |
Mahafuddin menceritakan pengalamannya menghadapi penolakan keluarga. "Banyak keluarga yang baru mau menerima perawatan setelah kita edukasi berulang kali bahwa ini demi keselamatan jiwa, karena di rumah sakit pengawasannya jauh lebih ketat dari benda tajam," katanya.
Dukungan sederhana yang bisa dilakukan oleh teman adalah dengan memvalidasi perasaan mereka. Menghindari kalimat yang menghakimi seperti "kurang ibadah" sangat disarankan, karena kalimat tersebut justru sering kali membuat seseorang semakin merasa bersalah dan tertekan di tengah kondisi mental yang anjlok.
"Seringkali mereka sebenarnya sedang menangis untuk meminta bantuan, namun tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkannya," ujar Mahafuddin mengenai kondisi batin seseorang yang berada di puncak keputusasaan sebelum melakukan tindakan nekat.
Kesadaran kolektif masyarakat untuk menciptakan ruang aman bagi kesehatan mental menjadi kunci utama. Dengan mengurangi stigma dan meningkatkan kepekaan sosial, diharapkan angka kasus bunuh diri di kalangan produktif dapat ditekan dan generasi muda mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan tepat waktu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....