Kasus Bibir Sumbing di Kaltim Tinggi, PDGI: Fokus pada Edukasi Bumil

  • 19 Apr 2026 07:40 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID,Balikpapan – Angka kasus kelainan bibir sumbing di Kalimantan Timur (Kaltim) dilaporkan masih berada di atas rata-rata nasional. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi kasus bibir sumbing di Kaltim mencapai 0,9 persen, angka yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan angka nasional yang berada di kisaran 0,2 persen.

Ketua PDGI Wilayah Kaltim, drg. Muhammad Husdiari, Sabtu 18 April 2026, mengungkapkan bahwa secara nasional pun terjadi peningkatan rasio deteksi. Jika sebelumnya rasio berada di angka 1 banding 700, saat ini rasionya meningkat menjadi sekitar 1 banding 500 orang terdeteksi mengalami kelainan ini.

Penyebab bibir sumbing ditegaskan sebagai kondisi multifaktor. Kelainan ini tidak lagi hanya dikaitkan dengan strata ekonomi rendah atau profesi tertentu, mengingat kasus ini juga ditemukan pada kalangan medis seperti dokter.

Fokus perhatian kini diarahkan pada pola pengasuhan dan kondisi masa kehamilan. Salah satu faktor risiko yang disoroti adalah perilaku hidup tidak sehat, seperti paparan asap rokok pada ibu hamil.

"Kami belum bisa memastikan faktor utama, namun ini jelas multifaktor. Kejadian selama proses kehamilan menjadi titik perhatian utama kami untuk melakukan deteksi awal guna meminimalkan risiko," ujar Ketua PDGI Wilayah Kaltim pada Minggu, 19 April 2026.

Menyikapi tingginya kasus di Kaltim, Persatuan Ahli Bedah Mulut Indonesia (PABMI) , tengah memperkuat kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur. Langkah-langkah strategis yang akan diambil meliputi pendataan rutin serta penguatan upaya proaktif dan preventif secara multisektor. Edukasi akan diberikan secara terpadu kepada ibu hamil, suami, hingga keluarga besar.

Selain aspek pencegahan, PABMI juga menyoroti pentingnya penjaminan kesehatan yang berkelanjutan. Operasi bibir sumbing diharapkan tidak hanya dilakukan sekali secara seremonial, tetapi mencakup perawatan komprehensif untuk memperbaiki fungsi estetik, fungsi bicara, hingga pemulihan kepercayaan diri pasien.

"Di luar negeri, penjaminan diberikan oleh negara bahkan sampai usia kerja. Kita berharap secara bertahap Indonesia bisa memitigasi ini agar tindakan kuratif dan preventif dapat berjalan paralel," ungkapnya.

Meski belum menetapkan target penurunan angka secara spesifik, pihak terkait berharap sinergi antara edukasi gizi dan perbaikan perilaku selama kehamilan dapat menurunkan angka prevalensi pada Riset Kesehatan Dasar periode mendatang. Penanganan bibir sumbing ini juga dinilai memiliki keterkaitan erat dengan penanganan masalah kesehatan lain seperti stunting, yang sama-sama berakar pada pemenuhan gizi dan pola asuh sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....