Masyarakat Kabupaten Paser Soroti Keamanan Pangan dan Sistem Pertanian

  • 18 Apr 2026 09:43 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Masyarakat Kabupaten Paser mempertanyakan penanganan serta penyuluhan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang dinilai belum optimal. Isu keamanan pangan menjadi sorotan seiring munculnya kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang bagi kesehatan.

Salah seorang masyarakat Paser, Ridwan, menilai masih kurangnya edukasi kepada masyarakat terkait praktik produksi pangan yang aman. Ia menyoroti penggunaan teknologi dalam pakan dan budidaya yang belum sepenuhnya dipahami dampaknya.

Ridwan mengatakan, kasus penolakan ekspor udang ke Amerika Serikat akibat indikasi zat berbahaya menjadi perhatian serius. Ia menilai hal tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan kualitas produk perikanan.

“Kita pernah dengar ada pengiriman udang yang terindikasi zat berbahaya. Ini jadi perhatian untuk perikanan kita,” ujarnya. Sabtu, 18 April 2026.

Ia juga menyoroti penggunaan pakan berbasis teknologi pada sektor peternakan yang dinilai belum sepenuhnya aman. Menurutnya, terdapat kasus ayam ternak yang tidak bertahan lama meski diberi pakan modern.

Ridwan menambahkan, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak konsumsi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat. Ia menilai potensi risiko penyakit bisa muncul dalam waktu bertahun-tahun.

“Kita tidak tahu dampaknya sekarang. Bisa saja muncul setelah beberapa tahun dan berdampak pada kesehatan,” ucapnya.

Ia juga mengaitkan pola konsumsi pangan dengan meningkatnya gangguan kesehatan di masyarakat. Menurutnya, kualitas bahan pangan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Ridwan berharap adanya penelitian dan penyuluhan yang lebih intensif terkait pangan sehat. Ia menilai arah pengembangan pertanian alami perlu diperkuat di Kalimantan Timur.

Sementara itu, Dosen dan Peneliti Universitas Mulawarman Samarinda, Prof. Suyadi, mengatakan pengembangan pertanian alami sangat memungkinkan diterapkan. Hal ini didukung oleh ketersediaan sumber daya alam yang melimpah di daerah.

Ia menjelaskan, pihaknya telah mengembangkan alternatif bahan alami pengganti hormon dan antibiotik di sektor peternakan. Inovasi ini diharapkan mampu menghasilkan produk yang lebih aman dikonsumsi.

“Kami sudah mengembangkan bahan alami sebagai pengganti hormon dan antibiotik di peternakan,” ujarnya.

google-preference
Video

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....