Paralisis Analisis: Dampak Buruk Overthinking bagi Pekerjaan

  • 11 Apr 2026 12:28 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Banyak orang sering menyamakan kebiasaan berpikir mendalam dengan overthinking, padahal keduanya memiliki dampak yang bertolak belakang terhadap produktivitas. Anggota Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia wilayah Kaltim, Rahel Roeroe, menjelaskan overthinking adalah siklus pikiran berulang yang tidak memiliki arah dan justru menghambat seseorang dalam mengambil keputusan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan berpikir kritis yang bertujuan mencari solusi atas suatu permasalahan, overthinking cenderung membuat seseorang terjebak dalam skenario masa lalu atau kecemasan masa depan yang belum tentu terjadi. Hal ini sering menyebabkan "paralisis analisis", di mana seseorang terlalu banyak menimbang sehingga tidak melakukan tindakan nyata apa pun.

Dampak dari kebiasaan ini tidak hanya berhenti di pikiran. Secara klinis, overthinking yang kronis dapat memicu gangguan kecemasan hingga depresi. Dalam lingkungan kerja, hal ini bermanifestasi pada kebiasaan menunda-nunda (prokrastinasi) karena adanya ketakutan berlebih terhadap kegagalan atau penilaian orang lain.

"Overthinking itu adalah kebiasaan berpikir yang berulang-ulang tanpa arah dan biasanya tidak menghasilkan solusi. Ini membuat kita semakin lelah dan sulit menghadapi keadaan," ujar Rahel dalam dialog Dokter Etam di RRI Samarinda, pada Kamis 9 April 2026.

Menurutnya, pikiran tersebut sering kali hanya berputar di area yang sama tanpa kemajuan. Rahel menyarankan agar seseorang mulai "memetakan" pikiran mereka saat mulai merasa jenuh. Salah satu teknik yang dianjurkan adalah dengan menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan atau catatan di ponsel. Dengan melihat pikiran secara visual, seseorang dapat lebih mudah membedakan mana kekhawatiran yang relevan dan mana yang hanya bersifat imajiner.

Selain itu, penetapan rutinitas harian yang jelas juga dianggap mampu menekan intensitas overthinking. Dengan adanya jadwal yang teratur, otak akan merasa lebih aman dan mengurangi kebutuhan untuk menciptakan skenario ancaman yang memicu pikiran berlebihan.

Pada akhirnya, kunci utama bukanlah menghentikan aktivitas berpikir, melainkan mengarahkan pikiran tersebut menjadi lebih produktif. Jika kebiasaan ini sudah mulai mengganggu fungsi dasar seperti pola tidur dan nafsu makan, bantuan profesional dari psikolog sangat disarankan sebelum kondisi kesehatan mental semakin memburuk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....