Vape dan Rokok Sama-sama Berisiko bagi Kesehatan
- 06 Jun 2026 22:17 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda- Anggapan rokok elektronik atau vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional masih banyak dipercaya masyarakat, terutama kalangan muda. Namun, dokter spesialis jantung dr. Dedy Pratama mengingatkan persepsi tersebut tidak sepenuhnya benar karena vape tetap mengandung zat berbahaya yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung dan kanker.
Menurut Dedy, berkembangnya penggunaan vape dalam beberapa tahun terakhir tidak lepas dari promosi yang menggambarkan produk tersebut sebagai alternatif yang lebih sehat dibandingkan rokok biasa. Padahal, dari sisi kesehatan, penggunaan vape tetap memiliki risiko yang perlu diwaspadai.
Ia menjelaskan banyak orang beranggapan vape lebih aman karena kadar nikotinnya dapat dipilih atau diatur sesuai kebutuhan pengguna. Namun, menurutnya, penilaian tersebut tidak bisa hanya melihat angka kandungan nikotin semata.
“Kalau vaping dianggap lebih sehat karena nikotinnya lebih rendah, itu tidak sesederhana itu. Yang perlu dilihat juga adalah volume yang dihirup dan frekuensi penggunaannya yang bisa jauh lebih sering dibandingkan rokok konvensional,” ujarnya Sabtu 6 Juni 2026.
Dedy menilai kemudahan penggunaan vape justru berpotensi membuat seseorang lebih sering mengonsumsi nikotin. Berbeda dengan rokok konvensional yang biasanya mengharuskan pengguna keluar ruangan atau mencari tempat tertentu, vape dapat digunakan hampir di mana saja sehingga frekuensi pemakaiannya cenderung lebih tinggi.
Selain itu, proses pemanasan cairan pada perangkat vape juga menghasilkan berbagai senyawa yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Dalam jangka panjang, paparan zat tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan pada sistem pernapasan maupun kardiovaskular.
Menurutnya, yang perlu dipahami masyarakat adalah tidak ada bentuk konsumsi rokok yang benar-benar aman. Baik rokok konvensional maupun rokok elektronik sama-sama membawa risiko kesehatan yang tidak boleh diremehkan.
“Rokok tetap rokok. Mau bentuknya konvensional atau elektronik, tetap ada dampak yang harus diperhitungkan terhadap kesehatan,” katanya.
Dedy juga membagikan pengalaman pribadi yang membekas dalam hidupnya. Ia mengaku kehilangan salah seorang anggota keluarganya akibat kanker di area dada yang berkembang sangat cepat.
Menurutnya, almarhum memiliki kebiasaan menggunakan rokok konvensional dan vape dalam aktivitas sehari-hari. Setelah muncul keluhan dan dilakukan pemeriksaan, ditemukan tumor yang berkembang agresif hingga akhirnya merenggut nyawanya dalam waktu sekitar lima bulan.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa dampak buruk rokok maupun vape tidak selalu muncul dalam waktu lama. Pada sebagian orang, gangguan kesehatan dapat berkembang cepat dan berujung pada kondisi yang mengancam jiwa.
Dedy mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih kritis terhadap berbagai informasi yang beredar mengenai vape. Ia menilai edukasi kesehatan harus terus diperkuat agar masyarakat memahami risiko yang sebenarnya dan tidak terjebak pada promosi yang menyesatkan.
Di tengah meningkatnya penggunaan rokok elektronik di kalangan remaja dan usia produktif, upaya pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan risiko penyakit tidak menular. Menghindari rokok dalam bentuk apa pun dinilai sebagai salah satu investasi kesehatan terbaik untuk menjaga fungsi jantung, paru-paru, dan kualitas hidup di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....