Kasus Campak Samarinda Capai 120, Mayoritas Balita Belum Imunisasi Lengkap

  • 18 Mar 2026 08:44 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Dinas Kesehatan Kota Samarinda mencatat kasus campak di wilayah tersebut mencapai sekitar 120 kasus hingga pertengahan Maret 2026. Sebagian besar kasus ditemukan pada anak usia balita dengan status imunisasi yang belum lengkap.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Samarinda, dr. Nata Siswanto, mengatakan campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengan masa penyembuhan rata-rata sekitar 14 hari. Penyakit ini memiliki tingkat penularan yang cukup tinggi, terutama pada anak-anak yang belum memiliki kekebalan tubuh optimal.

Ia menjelaskan masa penularan campak terjadi sejak tujuh hari sebelum muncul ruam hingga tujuh hari setelah ruam muncul. Dalam periode tersebut, virus dapat dengan mudah menyebar melalui kontak langsung maupun percikan droplet.

“Dalam satu kasus, campak bahkan bisa menularkan kepada 12 sampai 18 orang,” ujarnya saat ditemui di kantor Dinkes Samarinda, Selasa 17 Maret 2026.

Menurutnya, gejala awal campak biasanya ditandai dengan demam, muncul ruam pada kulit, mata merah, serta disertai batuk dan pilek. Kondisi tersebut perlu diwaspadai orang tua agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Meski jumlah kasus meningkat, masyarakat diminta tidak panik karena campak merupakan penyakit yang masih sering muncul setiap tahun. Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan untuk mencegah penyebaran lebih luas.

“Campak ini sebenarnya penyakit yang memang bisa muncul setiap tahun. Yang penting masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dan segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala,” katanya.

Sementara itu, Epidemiolog Dinas Kesehatan Samarinda, Fatur Rahman, mengatakan kasus campak saat ini tersebar di hampir seluruh kecamatan di Kota Samarinda. Beberapa wilayah dengan kasus tertinggi di antaranya Loa Bakung dan Lok Bahu.

“Kasusnya tersebar di beberapa wilayah, namun yang paling banyak ada di Loa Bakung dan Lok Bahu, masing-masing sekitar delapan kasus,” ujarnya.

Ia menjelaskan sebagian besar kasus terjadi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Kondisi ini bukan semata karena rendahnya partisipasi masyarakat, melainkan adanya kendala saat jadwal imunisasi berlangsung.

Menurutnya, dalam sejumlah kasus, imunisasi anak terlewat karena kondisi kesehatan anak yang sedang sakit sehingga tidak dapat menerima vaksin sesuai jadwal.

“Biasanya imunisasi terlewat karena anak sedang sakit, sehingga tidak bisa divaksin pada jadwalnya,” ucapnya.

Dinas Kesehatan Samarinda juga telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan peningkatan kasus campak kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Edaran tersebut menekankan peningkatan deteksi dini, pelaporan kasus, serta edukasi kepada masyarakat guna menekan penyebaran penyakit.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap penyebaran campak dapat dikendalikan, serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi semakin meningkat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....