Minta Maaf pada Anak: Cara Orang Tua Putus Rantai Trauma
- 16 Mar 2026 12:22 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup yang menuntut tanggung jawab besar, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan fisik anak. Dalam diskusi bersama Pro 4 RRI Samarinda pada Kamis, 12 Maret 2026, psikolog klinis Gardhika Rizky Sudarsono, M.Psi., Psikolog, menyoroti bagaimana pola asuh otoriter atau pengabaian dapat mewariskan trauma yang membekas seumur hidup pada anak.
Salah satu tantangan terbesar dalam pola asuh di Indonesia adalah adanya sekat atau gengsi antara orang tua dan anak. Banyak orang tua merasa bahwa meminta maaf kepada anak akan menjatuhkan harga diri mereka. Padahal, tindakan tersebut justru merupakan edukasi moral yang sangat berharga bagi perkembangan karakter sang anak.
"Bagi saya, orang tua yang minta maaf sama anaknya tidak akan menjatuhkan harga diri. Justru itu membantu anak belajar bahwa jika keliru, maka harus meminta maaf," ujar Gardhika dalam siaran tersebut. Ia mendorong normalisasi komunikasi dua arah yang setara antara orang tua dan anak.
Gardhika juga mengingatkan para orang tua untuk merefleksikan kembali perilaku mereka di rumah. Anak adalah peniru yang ulung; jika orang tua sering menunjukkan amarah atau kekerasan, anak akan menginternalisasi perilaku tersebut dan mempraktikkannya kepada orang lain, termasuk saudara atau teman sebayanya.
| Baca juga: Memahami Emosi, Keyakinan, dan Harga Diri |
Pola asuh yang disarankan adalah pola otoritatif atau demokratis, di mana orang tua tetap tegas namun tetap memberikan ruang bagi anak untuk berdiskusi dan mengekspresikan perasaannya. Validasi perasaan anak sejak dini merupakan kunci agar anak merasa aman dan dicintai secara emosional.
Psikolog tersebut juga menyentuh fenomena broken home. Menurutnya, perpisahan orang tua tidak selalu berujung pada trauma berat asalkan kedua belah pihak tetap hadir secara emosional bagi anak. Masalah utama sering kali muncul ketika salah satu pihak membatasi akses anak atau menjadikan anak sebagai alat konflik antar orang tua.
Sebagai kesimpulan, orang tua diajak untuk menyadari bahwa anak lahir atas keinginan orang tua, sehingga tanggung jawab penuh atas kesejahteraan mental mereka ada di tangan pengasuh. Dengan menurunkan ego dan terus belajar, orang tua dapat menciptakan "rumah" yang benar-benar aman bagi pertumbuhan psikologis anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....