Trauma Pengasuhan: Luka Masa Kecil yang Membentuk Kepribadian Dewasa
- 16 Mar 2026 12:12 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Pola asuh di masa kecil ternyata menjadi fondasi utama dalam pembentukan kepribadian seseorang saat dewasa. Dalam dialog interaktif Dokter Etam di RRI Samarinda pada Kamis, 12 Maret 2026, psikolog klinis, Gardhika Rizky Sudarsono, Psikolog, mengungkapkan bahwa trauma pengasuhan bukan hanya soal kejadian yang mengejutkan secara fisik, melainkan juga luka emosional yang dialami secara berulang.
Trauma ini sering kali muncul dari pengabaian emosional, kritik berlebih, hingga kekerasan verbal. Dampaknya sangat signifikan terhadap bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan cara mereka menjalin hubungan romantis maupun sosial di masa depan. Misalnya, anak yang tidak pernah mendapatkan validasi perasaan cenderung tumbuh menjadi pribadi yang mencari apresiasi berlebihan atau justru sangat tertutup.
Gardhika menekankan bahwa banyak orang tidak menyadari mereka membawa beban trauma hingga terjadi peristiwa pemicu (trigger) di masa dewasa. "Memahami diri sendiri secara psikologis atau self-awareness adalah bagian dari proses penyembuhan. Setengah dari proses healing itu adalah menyadari diri sendiri," ujar psikolog yang akrab disapa Mas Dika tersebut.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kepribadian adalah pola yang relatif menetap. Oleh karena itu, mengubah cara berpikir yang terlanjur negatif akibat trauma masa lalu membutuhkan waktu dan proses yang tidak instan. Pemulihan bukan berarti menghapus memori, melainkan kemampuan untuk menghadapi ingatan tersebut dengan perasaan yang lebih tenang dan terkendali.
| Baca juga: Memahami Emosi, Keyakinan, dan Harga Diri |
Kaitan antara trauma dan gangguan kepribadian seperti narsistik atau dependen juga menjadi sorotan. Gardika menjelaskan bahwa seseorang dengan gangguan kepribadian sering kali merasa perilakunya normal karena itu adalah mekanisme pertahanan diri yang terbentuk sejak kecil. Hal ini membuat penanganan psikologis menjadi kompleks karena melibatkan pembedahan lini masa kehidupan pasien.
Pentingnya dukungan orang-orang terdekat juga digarisbawahi sebagai faktor kunci pemulihan. Tanpa lingkungan yang suportif, terapi profesional sekalipun akan sulit membuahkan hasil yang maksimal. Stresor di lingkungan rumah harus diidentifikasi dan dikelola agar individu dapat berfungsi secara adaptif kembali.
Sebagai penutup, kesadaran akan kesehatan mental saat ini sudah mulai meluas di berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga orang tua. Hal ini diharapkan dapat memutus rantai trauma antargenerasi, sehingga generasi mendatang dapat tumbuh dengan kesehatan mental yang lebih stabil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....