Atur Obat dan Gula Darah saat Puasa
- 23 Feb 2026 11:20 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Pengaturan jadwal minum obat dan pola konsumsi makanan menjadi perhatian penting bagi penderita penyakit kronis selama menjalankan ibadah puasa. Tanpa manajemen yang tepat, risiko gula darah tidak stabil maupun tekanan darah meningkat dapat terjadi.
Kepala UPTD Puskesmas Sempaja, dr. Emma Ariani, mengatakan pasien dengan diabetes melitus dan hipertensi pada prinsipnya tetap dapat berpuasa, selama terapi tidak dihentikan dan dilakukan penyesuaian waktu konsumsi obat. Ia menegaskan, yang perlu dihindari adalah keputusan menghentikan obat secara sepihak tanpa konsultasi tenaga kesehatan.
“Obat tetap diminum rutin sesuai anjuran, hanya waktunya yang disesuaikan saat puasa agar kadar gula darah maupun tekanan darah tetap stabil,” ujarnya kepada rri.co.id, Senin 23 Februari 2026.
Pada penderita diabetes, perubahan pola makan dan jeda waktu tanpa asupan selama berjam-jam dapat memengaruhi metabolisme tubuh. Risiko yang bisa muncul bukan hanya gula darah tinggi (hiperglikemia), tetapi juga gula darah terlalu rendah (hipoglikemia), terutama jika sahur dilewatkan atau dosis obat tidak disesuaikan.
Karena itu, sahur menjadi waktu makan yang krusial. Asupan karbohidrat kompleks, protein, serta cairan yang cukup membantu menjaga kestabilan energi dan mencegah penurunan gula darah drastis di siang hari. Sebaliknya, konsumsi makanan manis berlebihan saat berbuka dapat memicu lonjakan gula darah secara cepat.
“Kalau ingin mencicipi makanan manis saat berbuka boleh saja, tetapi harus dibatasi. Jangan berlebihan,” ucapnya.
Selain diabetes, pasien hipertensi juga diminta tetap disiplin mengonsumsi obat penurun tekanan darah. Pola makan rendah garam dan rendah lemak dianjurkan untuk mencegah peningkatan tekanan darah yang dapat memicu keluhan seperti sakit kepala, pusing, atau lemas.
dr. Emma menambahkan, pemantauan mandiri seperti pemeriksaan gula darah atau tekanan darah secara berkala sangat dianjurkan, terutama bagi pasien yang sudah lama menjalani terapi. Langkah ini membantu mendeteksi lebih dini jika terjadi perubahan signifikan selama puasa.
Ia juga mengingatkan, jika muncul gejala seperti gemetar, keringat dingin, pandangan kabur, atau pusing berat, pasien sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama dibanding memaksakan diri berpuasa dalam kondisi tubuh tidak stabil.
Dengan disiplin terapi, pengaturan pola makan yang seimbang, serta konsultasi rutin, penderita penyakit kronis tetap dapat menjalankan ibadah puasa secara aman. Kesadaran dan kepatuhan terhadap anjuran medis menjadi kunci agar ibadah berjalan lancar tanpa mengabaikan kondisi kesehatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....