Kenali Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner sejak Dini

  • 22 Jun 2026 10:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Penyakit jantung koroner menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Kondisi ini terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah yang memasok oksigen ke otot jantung. Meski berbahaya, penyakit jantung koroner sebenarnya termasuk penyakit yang dapat dicegah apabila faktor risikonya dikendalikan sejak dini.

Dalam sebuah podcast yang tayang di kanal youtube Raditya Dika, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Vito Damay, menjelaskan serangan jantung tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa penyebab. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor risiko yang memicu terbentuknya plak pada pembuluh darah hingga akhirnya menyebabkan penyumbatan.

"Jantung koroner adalah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Sebelum terjadi serangan jantung, selalu ada faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan pembentukan plak," ujar Vito, dikutip Senin 22 Juni 2026.

Ia menjelaskan, tekanan darah tinggi menjadi salah satu penyebab utama kerusakan dinding pembuluh darah. Selain hipertensi, kadar kolesterol yang tinggi juga dapat mempercepat penumpukan lemak pada pembuluh darah sehingga membentuk plak yang semakin lama semakin menyempitkan aliran darah.

"Kolesterol jahat yang berlebihan akan menumpuk di dalam pembuluh darah dan membentuk plak. Plak inilah yang nantinya dapat menyebabkan penyempitan bahkan penyumbatan total," kata Vito.

Faktor risiko lain yang perlu diwaspadai adalah diabetes atau gangguan gula darah. Kondisi tersebut dapat memicu peradangan kronis yang merusak pembuluh darah dalam jangka panjang. Selain itu, obesitas juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit jantung karena tubuh berada dalam kondisi inflamasi yang berlangsung terus-menerus.

Menurut Vito, apabila faktor-faktor risiko tersebut dapat dikendalikan, peluang terjadinya serangan jantung dapat ditekan secara signifikan. Ia menegaskan, merokok menjadi salah satu faktor yang paling sering ditemukan pada pasien serangan jantung usia muda.

Dr. dr. Vito Damay, SpJP(K), saat podcast bersama Raditya Dika. (Foto: Youtube Raditya Dika)

"Kasus serangan jantung pada usia muda paling sering berkaitan dengan kebiasaan merokok. Rokok terbukti merusak pembuluh darah dan mempercepat proses terbentuknya penyumbatan," ucapnya.

Mengenai anggapan bahwa konsumsi telur atau daging kambing secara langsung dapat menyebabkan serangan jantung, Vito menjelaskan proses terbentuknya penyumbatan pembuluh darah berlangsung dalam jangka panjang. Serangan jantung bukan terjadi karena seseorang mengonsumsi makanan tertentu dalam satu atau dua kali kesempatan.

"Bukan berarti hari ini makan daging kambing lalu besok langsung terkena serangan jantung. Yang berbahaya adalah pola makan yang tidak terkontrol dalam waktu lama sehingga menyebabkan peningkatan kolesterol dan pembentukan plak," ujarnya.

Ia mengibaratkan plak dalam pembuluh darah seperti longsoran yang mempersempit jalan raya. Pada tahap awal, darah masih bisa mengalir meski ruangnya semakin sempit. Namun ketika plak pecah dan menutup seluruh aliran darah secara mendadak, serangan jantung dapat terjadi dalam hitungan menit.

Untuk mendeteksi risiko sejak dini, ia menyarankan masyarakat rutin memeriksa kadar kolesterol dan profil lipid secara berkala. Pemeriksaan tersebut dinilai penting untuk mengetahui kadar kolesterol jahat atau LDL yang menjadi salah satu penyebab utama penyumbatan pembuluh darah.

Selain pengobatan dengan obat-obatan, beberapa pasien yang mengalami penyumbatan berat memerlukan tindakan medis seperti pemasangan stent atau ring jantung. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan alat khusus melalui pembuluh darah di pergelangan tangan menuju jantung untuk membuka sumbatan yang terjadi.

"Stent berfungsi menjaga pembuluh darah tetap terbuka sehingga aliran darah kembali lancar. Tindakan ini menjadi standar penanganan pada banyak kasus penyumbatan pembuluh darah jantung," katanya.

Pada kasus yang lebih kompleks dengan penyumbatan di banyak titik, dokter dapat merekomendasikan operasi bypass jantung. Prosedur tersebut dilakukan dengan membuat jalur baru menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lain agar aliran darah tetap dapat mencapai otot jantung.

Meski teknologi pengobatan penyakit jantung terus berkembang, Vito menegaskan pencegahan tetap menjadi langkah terbaik. Menurutnya, menjaga pola makan sehat, berhenti merokok, rutin berolahraga, mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol jauh lebih efektif dibandingkan harus menjalani tindakan medis saat penyakit sudah berada pada tahap lanjut.

"Tujuan utama kami bukan hanya menyelamatkan pasien saat serangan jantung terjadi, tetapi juga mencegah agar masyarakat tidak sampai mengalami serangan jantung sejak awal," ucap Vito.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....