Resolusi Bukan Tekanan, Tapi Proses Bertumbuh Diri

  • 31 Jan 2026 07:12 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Awal tahun kerap identik dengan resolusi dan target hidup baru. Namun menurut Aulia Ramdhani, M.Psi., Psikolog, secara psikologis banyak orang justru merasa Januari hanyalah fase percobaan. “2026 baru dimulai Februari, seakan-akan Januari itu trial,” ujarnya, menggambarkan perasaan umum yang sering muncul di awal tahun.

Aulia menjelaskan bahwa tekanan resolusi sering muncul karena faktor momen. Otak manusia cenderung menandai waktu-waktu tertentu sebagai titik perubahan, seperti ulang tahun atau awal tahun. “Karena moment. Otak kita sering mengingat satu momen aja, jadi resolusi tadi rasanya menekan,” jelasnya. Resolusi akhirnya terasa seperti kewajiban, bukan kebutuhan.

Padahal, resolusi pada dasarnya penting sebagai sumber motivasi. Namun, motivasi tersebut seharusnya tidak hanya bergantung pada momen tertentu. “Resolusi itu harus realistis. Penting sebenarnya untuk motivasi, tapi motivasi yang didasari keinginan untuk berubah, bukan hanya karena moment,” kata Aulia menegaskan.

Ia juga mengakui bahwa rasa tertinggal adalah hal yang manusiawi. Bahkan sebagai psikolog, Aulia mengalami hal serupa. “Saya pribadi juga punya resolusi, dan tiap akhir tahun ada masanya kok belum ya,” ungkapnya jujur. Hal ini menunjukkan bahwa proses tidak selalu berjalan lurus atau cepat.

Menurut Aulia, penting untuk memahami bahwa setiap orang memiliki ritme hidup yang berbeda. “Jalan hidup orang beda-beda. Ada yang cepat, ada yang lama, ada yang bertahan. Dan itu semua progress,” katanya. Karena itu, resolusi sebaiknya tidak dipandang sebagai tuntutan sosial yang membebani diri.

Dalam menyusun resolusi, Aulia menyarankan untuk mulai dari pemetaan yang jelas. “Kita harus tahu apa hambatannya, strateginya apa, dan lebih baik dikasih jangka waktu,” jelasnya. Ia mencontohkan target menurunkan berat badan, yang perlu disertai strategi konkret seperti pola makan, olahraga, hingga bantuan profesional jika diperlukan.

Lebih lanjut, resolusi juga perlu fleksibel dan disesuaikan dengan realitas hidup. “Misalnya tahu hambatannya kalau weekend jalan dan nongkrong, ya enam hari jaga makan. Jadi nggak cuma satu-dua langkah,” kata Aulia. Dengan pendekatan ini, resolusi tidak lagi menjadi sumber tekanan, melainkan proses sadar untuk bertumbuh dan mengenal diri sendiri.

a

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....