Dot dan Kesehatan Gigi Anak

  • 24 Jan 2026 10:59 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Memberikan anak susu menggunakan dot sebelum tidur sudah biasa dilakukan orang tua. Namun ketahuilah, kebiasaan tersebut berbahaya bagi kesehatan gigi anak,

Biasanya sebelum tidur, anak diberikan susu menggunakan dot agar lebih cepat terlelap. Tapi orang tua sebaiknya berhati-hati. Kebiasaan tersebut ternyata berpotensi menyebabkan gangguan pada gigi anak Anda.

Bukan hanya susu, lho. Minuman atau makanan lainnya yang mengandung gula, misalnya jus kotak atau teh manis yang diberikan dengan botol dapat membahayakan kesehatan gigi anak. Terlebih lagi jika diberikan pada saat menjelang waktu tidur.

Dikutip dari klinik dokter, Penggunaan botol dot pada bayi dan anak-anak, terutama jika dilakukan dalam jangka panjang atau tidak higienis, memiliki beberapa risiko kesehatan. Berikut adalah 4 bahaya utama penggunaan botol dot berdasarkan berbagai sumber kesehatan:

1. Risiko Bingung Puting pada Bayi

Mengenalkan botol dot terlalu dini pada bayi yang menyusu ASI dapat menyebabkan bingung puting. Bayi cenderung lebih menyukai dot karena aliran susu yang lebih mudah dan konsisten daripada payudara. Akibatnya, pola hisap bayi berubah, ia bisa menolak payudara, dan transfer ASI menjadi tidak efektif.

2. Kerusakan Gigi (Karies Susu Botol)

Penggunaan dot yang berkepanjangan, terutama saat anak tertidur dengan botol berisi susu atau cairan manis, meningkatkan risiko karies gigi atau "syndrome karies susu botol". Cairan manis menggenang di sekitar gigi dan menyebabkan gigi keropos.

3. Masalah Pertumbuhan Rahang dan Gigi (Maloklusi)

Kebiasaan mengisap dot dalam waktu lama dapat menyebabkan masalah struktur mulut. Tekanan konstan dari dot dapat mendorong gigi seri atas ke luar dari posisi normalnya dan menyebabkan langit-langit mulut menjadi lebih sempit, yang berpotensi menimbulkan susunan gigi tidak rapi (maloklusi).

4. Meningkatkan Risiko Infeksi dan Kembung

Botol dot yang tidak disterilkan dengan benar dapat menjadi sarang bakteri seperti E. coli atau Salmonella, yang memicu diare dan gangguan pencernaan. Selain itu, bayi yang menggunakan botol dot berisiko menelan lebih banyak udara, yang dapat menyebabkan perut kembung, serta meningkatkan risiko infeksi telinga tengah.

Sebagai rekomendasi, IDAI dan AAP menyarankan agar penggunaan botol dot mulai dihentikan (disapih) saat anak berumur 9 bulan, atau maksimal 18 bulan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....