Fenomena Brain Rot dan Literasi Finansial Digital Jadi Sorotan Sahabat Tunas

  • 08 Jul 2026 12:10 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Forum Sahabat Tunas bertajuk "Guru Berdaya, Generasi Unggul dan Tangguh Digital sebagai Investasi Masa Depan" yang digelar di Denpasar, Bali, Kamis 2 Juli 2026, menyoroti berbagai tantangan generasi muda di era digital.

Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam diskusi tersebut adalah fenomena brain rot, yaitu kondisi ketika kemampuan berpikir kritis mengalami penurunan akibat konsumsi konten digital instan secara berlebihan.

Dikutip dari Indonesia.go.id, Rabu 8 Juli 2026, Puteri Indonesia Pariwisata 2026 Karina Moudy Widodo yang hadir sebagai narasumber mengungkapkan keprihatinannya terhadap kebiasaan sebagian generasi muda yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar dibandingkan berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitar.

"Mereka cenderung mengakses media sosial tanpa kesiapan untuk memahami cara bersosial media secara sehat," ujar Karina.

Karina juga membagikan kebiasaan sederhana yang diterapkannya sebelum mengunggah konten di media sosial. Ia menyarankan pengguna mengajukan tiga pertanyaan kepada diri sendiri, yakni apakah konten tersebut memberikan manfaat, apakah berpotensi menyinggung orang lain, dan apakah unggahan tersebut tetap layak dilihat kembali dalam lima tahun mendatang.

Sementara itu, psikolog Bunda Romi menjelaskan bahwa kemudahan yang ditawarkan teknologi digital dapat membuat anak terbiasa memperoleh berbagai hal secara instan. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan anak lebih mudah merasa frustrasi ketika menghadapi tantangan nyata, menyelesaikan konflik, atau menerima penolakan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain membahas dampak psikologis dan sosial, Forum Sahabat Tunas juga menyoroti pentingnya literasi finansial bagi anak-anak dan remaja di tengah perkembangan transaksi digital.

Praktisi pasar modal, Anak Agung Ngurah Mustakawarman, menjelaskan peralihan dari transaksi tunai menuju sistem digital melalui QRIS dan dompet elektronik menghadirkan tantangan baru dalam membangun kesadaran finansial generasi muda.

Menurutnya, ketika anak tidak lagi melihat uang berpindah secara fisik, pemahaman terhadap nilai uang dapat berkurang. Hal tersebut berpotensi mendorong perilaku konsumtif serta kebiasaan membeli secara impulsif, termasuk dalam transaksi gim daring dan berbagai layanan digital.

Kemudahan transaksi digital juga membuka peluang munculnya risiko penipuan dan kejahatan siber yang dapat menyasar anak-anak serta remaja. Karena itu, penguatan literasi finansial digital menjadi langkah penting agar generasi muda mampu menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.

Melalui Forum Sahabat Tunas, pemerintah dan berbagai pihak mendorong kolaborasi antara guru, keluarga, dan masyarakat untuk membangun generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, beretika, dan bijak dalam menghadapi perkembangan dunia digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....