Hoaks, Love Scamming, dan AI: Tantangan Baru Media Sosial di Era Digital

  • 21 Mei 2026 13:55 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Perkembangan media sosial saat ini tidak hanya menghadirkan kemudahan komunikasi, tetapi juga membawa berbagai ancaman digital yang semakin kompleks. Mulai dari penyebaran hoaks, penipuan daring, hingga kecanggihan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), semuanya menjadi tantangan baru yang harus dihadapi masyarakat, termasuk para pelajar dan pengguna media sosial secara umum.

Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman Samarinda, Silviana Purwanti, menjelaskan istilah hoaks sebenarnya memiliki makna seperti “umpan” atau “pancingan” untuk menarik perhatian publik. Hal itu disampaikan Silvi saat dialog bersama RRI, dalam program Halo Kaltim, dikutip Kamis 21 Mei 2026.

Menurutnya, pembuat berita palsu sengaja membuat informasi sensasional agar masyarakat terpancing untuk membaca, mempercayai, hingga menyebarkannya kembali. Agar tidak mudah terjebak hoaks, masyarakat perlu membiasakan diri untuk berpikir kritis dan tidak merasa paling tahu. “Biasakan bertanya, jangan merasa paling tahu,” katanya.

Ia menilai, kemampuan melakukan cek fakta menjadi hal penting di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin sulit dibedakan antara fakta dan manipulasi. Selain hoaks, ancaman lain yang kini marak terjadi adalah love scamming atau penipuan berkedok hubungan asmara. Modus ini biasanya dilakukan dengan mendekati korban secara emosional melalui media sosial atau aplikasi percakapan.

Pelaku kemudian membangun kedekatan, memberikan perhatian, lalu meminta uang kepada korban dengan berbagai alasan. Fenomena tersebut bahkan telah memakan banyak korban dari berbagai kalangan. “Mereka pintar mencari celah untuk mencari dana dari arah nasabah,” ucapnya.

Menurutnya, pelaku love scamming memiliki kemampuan membaca kondisi psikologis korban. Mereka memanfaatkan rasa kesepian, kebutuhan akan perhatian, hingga keinginan untuk merasa dilindungi agar korban mudah percaya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, banyak pelaku penipuan menggunakan foto profil berseragam agar terlihat lebih meyakinkan dan dipercaya korban. Secara psikologis, simbol seragam sering dianggap mencerminkan sosok yang mampu memberikan perlindungan dan rasa aman.

Tidak hanya perempuan, laki-laki juga kerap menjadi sasaran penipuan digital. “Kalau pria, mereka butuh sosok yang perhatian dan keibuan,” ucapnya. Oleh sebab itu, pelaku penipuan biasanya menyesuaikan karakter palsu mereka dengan kebutuhan emosional calon korban. Modus seperti ini menunjukkan bahwa kejahatan digital kini semakin terorganisasi dan memanfaatkan pendekatan psikologis secara mendalam.

Di sisi lain, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI juga memunculkan kekhawatiran baru di masyarakat. Teknologi ini kini hadir hampir di semua platform media sosial dan aplikasi digital. AI mampu membuat gambar, suara, hingga percakapan yang sulit dibedakan dari manusia asli. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus semakin berhati-hati terhadap manipulasi digital maupun penyalahgunaan teknologi.

Fenomena AI juga memunculkan tantangan bagi pengguna media sosial yang ingin melakukan detoks digital. Banyak orang merasa sulit lepas dari media sosial karena algoritma platform terus menarik perhatian pengguna melalui konten yang dipersonalisasi. Hal ini membuat media sosial menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari yang sulit ditinggalkan.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi digital tidak dapat dihindari. Media sosial, AI, maupun berbagai inovasi lainnya akan terus berkembang seiring kemajuan zaman. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta menjaga kesehatan mental agar tidak mudah terjebak hoaks, penipuan digital, maupun dampak negatif media sosial lainnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....