Gen Z dan Gen Alpha di Era Digital: antara Stres, Teknologi, dan Tantangan Masa Depan
- 03 Jun 2026 13:54 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Generasi Z (Gen Z) dan Generasi Alpha (Gen Alpha) menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Berbagai stereotip sering dilekatkan kepada mereka, mulai dari dianggap terlalu sensitif, sulit fokus, hingga terlalu bergantung pada gawai. Namun, pandangan tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Dalam sebuah diskusi yang menghadirkan perwakilan Gen Z, Gen Alpha, dan praktisi psikologi, terungkap bahwa tekanan yang dialami generasi muda saat ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan digital. Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) HIMPSI Kalimantan Timur, Ayunda Ramadhani, menjelaskan perubahan zaman membawa tantangan baru yang tidak dialami generasi sebelumnya.
Menurut Ayunda, tingginya tingkat stres pada generasi muda bukan semata-mata karena mereka lebih lemah secara mental. "Generasi Z dan generasi Alpha memang kebanjiran informasi yang didapatkan dari internet, media sosial, dan paparan gadget," ujar Ayunda, dikutip Rabu 3 Juni 2026.
Ia menambahkan, arus informasi yang tidak pernah berhenti dapat membuat seseorang merasa kewalahan atau overwhelmed. Paparan berita negatif, tuntutan media sosial, hingga berbagai informasi yang muncul setiap saat menjadi faktor yang memengaruhi kondisi psikologis generasi muda.
"Paparan berita yang berlebihan, durasi pemakaian gadget yang cukup lama, kemudian banyaknya berita-berita negatif, itu semua bisa bikin mereka overwhelm sebenarnya," katanya.
Kondisi inilah yang sering membuat Gen Z dan Gen Alpha terlihat lebih mudah mengalami stres dibandingkan generasi sebelumnya. Meski demikian, Ayunda menilai bahwa perbedaan tersebut juga dipengaruhi oleh budaya yang berkembang pada masing-masing generasi. Generasi terdahulu cenderung diajarkan untuk menyimpan perasaan dan tidak banyak mengeluh.
Sebaliknya, generasi sekarang lebih berani mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Karena lebih terbuka, mereka sering kali dianggap terlalu sensitif atau mudah mengeluh. "Kalau anak sekarang itu berani untuk mengekspresikan apa yang dia rasakan," ucap Ayunda.
Fenomena kesehatan mental juga semakin sering dibicarakan oleh Gen Z. Kesadaran terhadap pentingnya menjaga kondisi psikologis menjadi salah satu ciri khas generasi ini. Bagi sebagian orang tua, sikap tersebut terkadang dianggap berlebihan. Padahal, menurut para ahli, kemampuan mengenali dan mengekspresikan emosi merupakan bagian penting dari kesehatan mental yang baik.
Selain persoalan stres, muncul pula anggapan bahwa Gen Z dan Gen Alpha memiliki rentang konsentrasi yang lebih pendek. Ayunda mengakui, kebiasaan mengonsumsi video singkat di berbagai platform digital memang dapat memengaruhi fokus seseorang. "Beberapa penelitian menyampaikan bahwa paparan video pendek yang selalu berpindah-pindah itu memengaruhi konsentrasi," ujarnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti generasi muda tidak mampu fokus. Menurutnya, metode belajar hanya mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. "Bukan berarti enggak bisa fokus. Bisa, tapi mereka butuh visual yang menarik," kata Ayunda.
Karena itu, dunia pendidikan saat ini dituntut untuk lebih kreatif dalam menyampaikan materi agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Perubahan pola belajar terlihat dari semakin banyaknya penggunaan teknologi dalam proses pendidikan. Aplikasi desain, video interaktif, hingga pembelajaran berbasis proyek menjadi metode yang lebih efektif bagi generasi digital. Model pembelajaran satu arah yang hanya mengandalkan ceramah dinilai semakin kurang relevan bagi siswa masa kini.
Di sisi lain, teknologi juga menghadirkan berbagai risiko yang perlu diwaspadai. Fenomena seperti fear of missing out (FOMO), nomophobia atau ketakutan saat jauh dari ponsel, hingga cyberbullying menjadi tantangan baru yang muncul di era digital. Oleh karena itu, penggunaan teknologi harus diimbangi dengan literasi digital dan kemampuan mengelola kesehatan mental.
Pada akhirnya, Gen Z dan Gen Alpha bukanlah generasi yang lemah atau sulit diatur. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan tantangan yang jauh lebih kompleks. Kemampuan beradaptasi dengan teknologi, keberanian mengekspresikan diri, serta keterbukaan terhadap isu kesehatan mental justru menjadi kekuatan yang perlu diapresiasi. Daripada terjebak pada stereotip, memahami karakteristik dan kebutuhan mereka akan menjadi langkah penting untuk menciptakan generasi yang sehat, kreatif, dan siap menghadapi masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....