Riset Ungkap AI Bukan Ancaman, Ketertinggalan Lebih Berbahaya

  • 26 Mei 2026 11:38 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Vaasa - Perkembangan kecerdasan buatan atau AI generatif di lingkungan kerja dilaporkan berjalan semakin cepat dari perkiraan sebelumnya. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran besar di kalangan pekerja terkait potensi kehilangan pekerjaan pada masa mendatang. Kendati demikian, sebuah riset terbaru menunjukkan sudut pandang yang berbeda mengenai ancaman nyata teknologi tersebut.

Dilansir dalam rilis University of Vaasa di Finlandia melalui laman ScienceDaily, ancaman terbesar bagi para pekerja saat ini sebenarnya bukan terletak pada teknologi AI itu sendiri. Ancaman utama yang paling nyata adalah ketika pekerja tertinggal dalam mempelajari cara menggunakan teknologi kecerdasan buatan tersebut. Para pekerja yang enggan beradaptasi dinilai akan kalah bersaing di era digital.

Seorang peneliti dari University of Vaasa, Zhe Zhu mendapati bahwa AI generatif justru dapat mendorong keterlibatan karyawan secara positif. Teknologi ini juga disebut mampu meningkatkan ketahanan karier mereka di perusahaan. Hal tersebut dapat terwujud dengan catatan para pekerja melihat AI sebagai mitra, bukan sebagai sebuah ancaman kerja.

"Para pekerja yang memandang AI generatif secara lebih positif juga terbukti lebih terlibat dan mudah beradaptasi dalam karier mereka," ujar Zhe Zhu dalam keterangannya yang dipublikasikan pada Senin, 25 Mei 2026.

Menurut hasil penelitian Zhe Zhu, rasa percaya memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan dampak pemanfaatan AI. Rasa percaya yang terukur akan menentukan apakah AI membantu atau justru merugikan karyawan serta organisasi tempat mereka bekerja. Pekerja diharapkan mampu menyikapi kehadiran teknologi pintar ini secara proporsional dan bijak.

Meskipun demikian, penelitian ini juga mengingatkan adanya risiko jika pekerja menaruh kepercayaan yang terlalu berlebihan pada teknologi AI. Pekerja yang terlalu percaya berisiko menerima informasi yang tidak akurat begitu saja tanpa melakukan pemeriksaan ulang. Sebaliknya, karyawan yang terlalu tidak percaya akan melewatkan berbagai keuntungan potensial yang ditawarkan oleh AI.

Pihak universitas meyakini bahwa saat ini lingkungan kerja global sedang bergerak menuju masa depan yang berbasis AI asli atau AI native. Pada fase tersebut, sistem kecerdasan buatan akan sepenuhnya menyatu dengan tugas dan proses kerja sehari-hari secara otomatis. AI tidak lagi berfungsi sebagai alat terpisah seperti yang jamak ditemui sekarang.

Kondisi transisi teknologi ini diprediksi akan membawa perubahan ekonomi yang jauh lebih luas serta menciptakan industri baru. Kunci utama untuk bertahan di pasar kerja masa depan adalah kemauan untuk terus belajar mengoperasikan teknologi baru. Kesimpulan akhir dari studi ini menegaskan bahwa AI tidak akan menggantikan posisi manusia, melainkan orang yang mahir menggunakan AI yang akan menggantikan mereka yang abai.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....