BGTK Kaltim Dorong Kepala Sekolah Bangun Kurikulum Kontekstual
- 11 Mei 2026 15:11 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Parade Webinar “Etam Kayuh Bebaya” yang digelar Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Kalimantan Timur menempatkan kepala sekolah sebagai figur utama dalam mendorong perubahan pendidikan. Kepala sekolah dinilai tidak lagi hanya berperan sebagai pengelola administrasi, tetapi juga pemimpin transformasional yang menentukan arah budaya belajar di satuan pendidikan.
Dalam sesi materi, Widyaiswara Ahli Madya BBGTK Jawa Tengah, Zaimatus Sa’ida, menjelaskan kepala sekolah memiliki tiga kompetensi utama yang saling berkaitan. Ketiganya meliputi kompetensi kepribadian, sosial, dan profesional sebagai fondasi kepemimpinan pembelajaran di sekolah.
Menurut Zaimatus, kompetensi kepribadian mencakup integritas serta pengembangan diri yang terencana dan berkelanjutan. Kompetensi sosial diarahkan pada kemampuan membangun komunitas belajar yang efektif dan kolaboratif, sementara kompetensi profesional menuntut kepala sekolah mampu menurunkan visi menjadi program kerja nyata.
“Kepala sekolah harus mampu membaca aset yang dimiliki sekolah, data rapor pendidikan, catatan refleksi, dan hasil supervisi. Semua itu harus saling melengkapi secara sistemik, terencana, dan berkelanjutan,” kata Zaimatus pada Senin 11 Mei 2026.
Zaimatus menegaskan, kepala sekolah juga memegang peran penting dalam supervisi pembelajaran. Supervisi tidak boleh dipandang sekadar kegiatan administratif, tetapi harus menjadi sarana memberi umpan balik yang membangun bagi guru agar kualitas pembelajaran terus meningkat.
Selain kepemimpinan, webinar itu juga menyoroti pentingnya pembelajaran mendalam yang berangkat dari konteks lingkungan peserta didik. Zaimatus menilai kepala sekolah harus mampu membaca kondisi geografis, sosial, dan budaya masyarakat sebagai dasar dalam menyusun kurikulum satuan pendidikan.
“Bagaimana KSP atau kurikulum satuan pendidikan itu betul-betul sesuai dengan konteks murid, sesuai dengan konteks lingkungan kita, dan sesuai dengan konteks masyarakat sekitarnya,” ujarnya. Ia mencontohkan potensi kearifan lokal seperti Sungai Mahakam dan produk amplang di Samarinda sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual yang dapat memperkuat identitas lokal peserta didik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....