Duta Bahasa Provinsi Kaltim-Kaltara Kembangkan Kartu Anti Perundungan

  • 25 Agt 2026 14:30 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Upaya mencegah perundungan di kalangan pelajar terus dikembangkan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda. Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara 2026 menghadirkan Karsa sebagai media edukasi berbentuk permainan kartu.

Karsa (Kartu Respon Sadar Anti Perundungan) dirancang untuk membantu peserta didik mengenali berbagai bentuk tuturan yang berpotensi menyakiti orang lain. Media tersebut menggabungkan permainan dengan literasi kebahasaan sehingga peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak menganalisis penggunaan bahasa dalam situasi tertentu.

Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2026, Muhammad Aji Drajad, mengatakan Karsa lahir dari keresahan terhadap maraknya perundungan yang terjadi di lingkungan sekitar. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kebiasaan candaan yang berujung perundungan.

“Banyak generasi muda yang menormalisasikan candaan yang berujung kepada perundungan, salah satunya hinaan fisik atau body shaming,” kata Aji, dikutip Selasa, 25 Agustus 2026.

Berbeda dari pendekatan edukasi perundungan lainnya, Karsa menggunakan pendekatan analisis forensik kebahasaan. Peserta diajak mengenali apakah suatu kalimat termasuk perundungan atau kalimat yang menyakiti orang lain. Sehingga dapat memahami apakah tuturan tersebut dapat berdampak kepada korban, kemudian mengubahnya menjadi bahasa yang lebih santun.

Karsa menyasar peserta didik dan tenaga pendidik, dengan sasaran utama saat ini berada di tingkat SMA. Untuk mendukung keberlanjutan program, Duta Bahasa juga membentuk tim fasilitator di satuan pendidikan yang melibatkan Forum OSIS, PIK dan guru BK.

Dalam praktiknya, Karsa dilengkapi buku saku, kartu skenario, kartu level, kartu dampak dan kartu tantangan. Peserta didik akan membaca sebuah situasi, menentukan tingkat tuturan, menganalisis dampaknya, kemudian mendapatkan tantangan untuk mengubah bahasa tersebut menjadi kritik yang lebih membangun.

Pengembangan Karsa dilakukan melalui proses pengumpulan data dan pencarian referensi sebelum menentukan metode yang dianggap sesuai. Penyusunan produk berlangsung sekitar satu hingga dua bulan, hingga proses penyempurnaan dan menghasilkan bentuk yang digunakan saat ini.

Melalui inovasi tersebut, Duta Bahasa Kaltim-Kaltara berharap edukasi mengenai perundungan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dapat menjadi pengalaman belajar yang interaktif. Karsa pun diharapkan terus dikembangkan dan menjangkau lebih banyak sekolah di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara hingga seluruh Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....