Kurang Literasi Picu Komentar Negatif Netizen di Medsos

  • 22 Apr 2026 11:25 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Maraknya komentar negatif di media sosial dinilai tidak lepas dari rendahnya literasi dan etika digital masyarakat. Kondisi ini memicu kecenderungan warganet menyampaikan opini secara emosional tanpa memahami informasi secara utuh.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur, Sari Mulyani, dalam obrolan SPADA, dikutip Rabu, 22 April 2026 menjelaskan fenomena tersebut berkaitan dengan cara masyarakat memanfaatkan kebebasan berekspresi di ruang digital.

“Saya juga nanyakan hal itu. Kenapa sih kita cenderung sekali berkomentar jahat? Ya, satu tadi karena kita merasa anonim dan kita merasa di ruang yang aman untuk mengekspresikan. Tapi kalau dilihat dari etika digital, atau etika media sosial, sebenarnya masyarakat kita tuh kurang suka membaca di situ secara penuh,” ujarnya.

Ia menilai, rendahnya literasi media membuat pengguna kerap mengambil kesimpulan hanya dari judul tanpa memahami isi informasi secara menyeluruh.

“Jadi kadang-kadang kita baca dari judul aja. Padahal gitu loh. Padahal kalau kadang-kadang wartawan ini kan pintar ya sekarang keren banget dia bisa memancing-mancing kita hanya dengan di judul. Nah, kurang enaknya, kurang baiknya sisi buruknya ya kita terpancing emosi. Padahal kita enggak baca utuh,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut memicu munculnya penilaian cepat atau judgement tanpa dasar informasi yang lengkap.

“Dan itu terjadi yang namanya kalau saya ambil catatan judgement. Kita terlalu cepat menjudge sesuatu karena di atas wah enggak baik enggak baik berdasarkan judul aja,” katanya.

Ia menegaskan, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi perilaku tersebut, yakni lemahnya etika bermedia sosial dan rendahnya literasi terhadap informasi digital.

“Jadi ada dua konsep sebetulnya. Satu etika kita di media sosial masih kurang. Yang kedua, literasi kita terhadap media juga rendah. Kita daripada menguang waktu 2 sampai 3 menit membaca full berita, kita mengambil yang 2 sampai 10 detik untuk membaca judulnya,” katanya.

Fenomena ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di berbagai negara dengan tingkat penggunaan internet yang tinggi.

“Tapi sebetulnya ini enggak fenomena di Indonesia aja. Saya kasih contoh Korea Selatan itu netizennya terkenal sangat tajam dari ekspresinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, tingginya penetrasi penggunaan internet turut berpengaruh terhadap dinamika interaksi di ruang digital.

“Kalau di Indonesia kan kita ngambil dari data kementerian kita tuh 82% tuh sudah melek. Jadi 8 orang dari 10 orang itu sudah paham, sudah bisa menggunakan gadget, sudah ngerti browsing-browsing, media sosial dan yang lainnya,” katanya.

Menurutnya, kemudahan akses informasi membawa dampak positif sekaligus tantangan.

“Ada hal baik. Hal baiknya kita mendapatkan informasi dengan cepat tapi hal buruknya ini kayaknya kita masih belum siap,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat yang enggan membaca informasi secara mendalam, sehingga memperburuk kualitas interaksi di media sosial.

“Banyak kok juga influencer tuh ngomong kita nih di Indonesia itu kadang-kadang malas enggan untuk membaca lebih jauh gitu. Dan etika kita di media sosial di internet itu jadi netizen itu kurang ya karena mungkin ngerasa aman tidak ada yang lihat,” ujarnya.

Ia mengingatkan, perilaku tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif yang lebih luas di ruang publik digital.

“Tapi tahu kan teman-teman itu berdampak buruk, berdampak buruk. Akhirnya kita tuh cuma jadi kayak yang bikin ramai satu aja kita menciptakan viral baru tanpa tahu ini apa,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....