Semarak HUT Kabupaten Berau dan Tanjung Redeb, Kuliner Warisan Leluhur Tetap Hidup
- 25 Sep 2026 05:58 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Berau - Aroma harum kue tradisional berpadu dengan semangat peserta Lomba Ancur Paddas dan Puncak Rasul. Keramaian Festival Kue Tradisional ini, turut menghangatkan suasana peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Berau ke-73 sekaligus Hari Jadi Kota Tanjung Redeb ke-216 di Lapangan GOR Pemuda, Jalan Pemuda, Rabu 23 September 2026.
Beragam warna dan rasa, suara tawa warga, sorak-sorai saat berebut jajanan tradisional, serta aroma masakan khas yang menguap ke udara menjadi bukti bahwa warisan leluhur tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi tetap hidup dan dirasakan bersama di Bumi Batiwakkal, sebutan Kabupaten Berau.
Kegiatan yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau tersebut, diikuti dengan penuh semangat oleh organisasi wanita se-Kabupaten Berau dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
Wakil Bupati Berau, Gamalis, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala OPD, serta warga dari berbagai kecamatan turut hadir memeriahkan kegiatan tersebut.
Salah satu momen yang paling dinanti adalah tradisi berebut jajanan tradisional yang disediakan panitia. Anak-anak berlarian, para ibu tersenyum sambil membagikan jajanan, sementara para tetua terlihat mengangguk bahagia. Momen sederhana itu menjadi bagian dari kebersamaan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Dalam sambutannya, Gamalis, menegaskan kuliner khas Berau bukan sekadar persoalan rasa, tetapi juga bagian dari jati diri masyarakat yang harus dijaga dan dilestarikan.

“Lomba Ancur Paddas, Puncak Rasul, dan Festival Kue Tradisional ini adalah upaya kami melestarikan kuliner, makanan khas, dan tradisi yang menjadi kekayaan budaya Berau. Semoga tidak hanya menjadi bagian dari wisata, tetapi tumbuh menjadi peluang usaha bagi para pelaku UMKM, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkuat pariwisata daerah,” ujar Gamalis, disambut tepuk tangan warga.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau, Yudha Budi Santosa, menambahkan Ancur Paddas dan berbagai sajian tradisional lainnya merupakan warisan yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa kerajaan.
Menurutnya, bahan, cara pengolahan, hingga waktu penyajiannya memiliki nilai sejarah dan budaya yang perlu terus dijaga.
“Makanan seperti ini biasanya hadir dalam acara syukuran, peringatan hari besar Islam, Maulid Nabi, dan acara sakral. Melestarikan kue tradisional bukan sekadar menjaga rasa, melainkan menjaga nilai, sejarah, dan jati diri kita agar tetap dikenal oleh anak cucu kelak,” ujarnya.
Suasana di lapangan pada pagi menjelang siang itu menjadi bukti bahwa di tengah perkembangan zaman yang bergerak cepat, masyarakat Berau tidak melupakan akar budayanya.
Di setiap gigitan kue tradisional dan setiap tawa saat berebut jajanan, tersimpan semangat untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup, dikenal, dirasakan, dan dibanggakan bersama. (Diskominfo Berau-IKP/fhd/yar)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....