Mentan Amran Dorong Sawit Indonesia Naik Kelas lewat Hilirisasi

  • 16 Sep 2026 12:08 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta – Ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya mencatat pertumbuhan 5,49 persen sepanjang Januari–Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut memperkuat kontribusi komoditas sawit terhadap ekspor pertanian sekaligus menunjukkan peluang produk perkebunan Indonesia di pasar global.

Dikutip dari laman Kementerian Pertanian, Rabu 16 September 2026, pertumbuhan ekspor sawit sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat sektor perkebunan dari hulu hingga hilir. Penguatan dilakukan melalui peningkatan produktivitas, peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, perbaikan budi daya, hingga pengembangan industri pengolahan.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat posisi sawit di pasar dunia karena merupakan salah satu produsen sawit terbesar. Namun, peningkatan produksi perlu diiringi dengan hilirisasi agar ekspor tidak hanya mengandalkan komoditas dalam bentuk bahan mentah.

“Indonesia ini salah satu produsen sawit terbesar dunia. Ini kekuatan kita. Jangan hanya ekspor bahan mentah, tetapi kita dorong hilirisasi supaya nilai tambahnya semakin besar,” ujar Amran.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor sawit berlangsung seiring dengan penguatan ekspor nonmigas Indonesia. Pada Januari–Juli 2026, nilai ekspor nonmigas mencapai US$160,01 miliar atau meningkat 5,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, total ekspor Indonesia mencapai US$167,03 miliar atau tumbuh 4,43 persen secara tahunan. Penguatan tersebut menunjukkan aktivitas ekspor nasional tetap mengalami pertumbuhan di tengah dinamika pasar global.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut penguatan harga komoditas global turut mendorong kinerja ekspor, terutama pada kelompok komoditas pertanian. Minyak sawit menjadi salah satu komoditas yang mengalami peningkatan harga.

“Pada Juli tahun 2026, secara umum harga komoditas di pasar global menunjukkan peningkatan secara year on year. Kenaikan harga secara tahunan terjadi pada kelompok pertanian, energi, logam mulia, dan juga logam dan mineral. Peningkatan harga komoditas pertanian utamanya didorong oleh peningkatan harga minyak sawit,” kata Ateng dalam penyampaian Berita Resmi Statistik BPS pada awal September 2026.

Penguatan ekspor sawit juga tercermin pada kelompok lemak dan minyak hewani/nabati atau HS 15 yang menjadi salah satu komoditas pendorong ekspor nonmigas. Di sisi lain, sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan sebesar 7,16 persen sepanjang Januari–Juli 2026.

Menurut Amran, momentum pertumbuhan ekspor perlu dimanfaatkan untuk memperkuat industri pengolahan berbasis pertanian. Semakin banyak komoditas yang diolah di dalam negeri, semakin besar pula peluang menciptakan nilai tambah sebelum produk dipasarkan ke pasar internasional.

“Yang paling penting adalah bagaimana nilai tambah itu kembali kepada petani dan pekebun. Produktivitas kita tingkatkan, kemudian hilirisasi kita dorong. Jadi dari hulu sampai hilir harus kuat,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....