SPI Apresiasi Penguatan Irigasi untuk Jaga Produksi Beras di tengah Kemarau
- 14 Sep 2026 07:43 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta - Serikat Petani Indonesia (SPI) mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menjaga dan meningkatkan produksi beras nasional di tengah tantangan musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah. Penguatan sarana dan prasarana pengairan dinilai menjadi faktor penting untuk mempertahankan produktivitas sektor pertanian.
Dikutip dari laman Kementerian Pertanian, Senin 7 September 2026, Ketua SPI Henry Saragih mengatakan produktivitas padi pada musim kemarau tahun ini justru menunjukkan peningkatan. Menurutnya, hasil panen padi dapat mencapai 8 hingga 10 ton per hektare, meskipun luas areal tanam mengalami penurunan karena tidak seluruh lahan mendapatkan pasokan air yang memadai.
“Di musim kemarau ini produksi beras naik, per hektarenya bisa mencapai 8 hingga 10 ton. Namun, luas lahan tanaman padi berkurang karena tidak semuanya terairi,” ujar Henry dalam dialog terbuka RRI, Senin 31 Agustus 2026.
Henry menilai ancaman musim kemarau yang diperkirakan masih berlanjut hingga 2027 perlu diantisipasi sejak dini. Selain memperoleh informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), petani juga membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Ia mendukung langkah pemerintah memperkuat ketersediaan air melalui perbaikan jaringan irigasi dan penyediaan pompa air bagi petani. Menurutnya, ketersediaan air menjadi kebutuhan utama tidak hanya bagi tanaman padi, tetapi juga berbagai komoditas palawija yang turut menopang ketahanan pangan nasional.
“Petani kita selain mendapat informasi dari BMKG juga perlu mendapatkan informasi dari pemerintah. Saya mendukung pemerintah dalam pengadaan sarana air, baik dengan memperbaiki seluruh saluran irigasi maupun menyediakan mesin-mesin pompa air,” katanya.
Henry menegaskan pemerintah perlu memastikan seluruh infrastruktur pengairan tetap berfungsi optimal selama musim kemarau. Jika musim kering berlangsung lebih panjang, kesiapan sarana air akan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan produksi pertanian.
Sebagai langkah jangka panjang, SPI mendorong pembangunan waduk baru sebagai cadangan air sekaligus penguatan jaringan irigasi yang sudah ada. Upaya tersebut dinilai penting untuk menghadapi perubahan pola musim yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim.
“Kita ke depan harus terus membangun waduk-waduk sebagai cadangan air dan saluran irigasi juga harus disiapkan,” ujarnya.
Selain penguatan infrastruktur pertanian, SPI juga mengajak petani menerapkan sistem budi daya yang lebih ramah lingkungan melalui pendekatan agroekologi. Menurut Henry, SPI secara nasional telah mengampanyekan percepatan masa tanam pada musim kemarau untuk menjaga produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia.
“Ketika musim kemarau kita percepat tanamnya supaya mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia,” katanya.
Dalam penyediaan benih, SPI menggunakan benih yang direkomendasikan pemerintah sekaligus mengembangkan benih hasil produksi SPI yang dinilai sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pertanian di berbagai daerah.
Henry menilai berbagai capaian pemerintah dalam meningkatkan produksi padi menunjukkan bahwa dukungan sarana pengairan yang memadai dan strategi budi daya yang tepat dapat menjaga produksi pangan nasional meskipun menghadapi tekanan musim kemarau.
SPI berharap program penguatan infrastruktur pertanian, khususnya perbaikan dan pembangunan jaringan irigasi, terus dilanjutkan agar petani memiliki kepastian dalam berproduksi. Dengan demikian, ketahanan pangan nasional dapat tetap terjaga dan lebih siap menghadapi ancaman kemarau berkepanjangan pada masa mendatang.
“Tentu kita berharap apa yang sudah dilakukan ini bisa dilanjutkan, terutama perbaikan irigasi sebagai sarana pengairan bagi tanaman padi,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....