Kekeringan di Long Mesangat Kutai Timur Dorong Penguatan Strategi Pertanian
- 22 Agt 2026 07:00 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Kondisi kekeringan yang melanda wilayah Kecamatan Long Mesangat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, mulai menjadi perhatian serius karena berdampak pada ketersediaan air untuk lahan pertanian. Berkurangnya sumber air menjadi tantangan bagi petani dalam memenuhi kebutuhan tanaman sekaligus mempertahankan keberlanjutan kegiatan budidaya.
Situasi tersebut berpotensi memengaruhi pertumbuhan tanaman dan produktivitas pertanian apabila berlangsung dalam waktu yang panjang. Kondisi lahan yang semakin kekurangan air juga dikhawatirkan menghambat kegiatan tanam pada periode berikutnya.
Salah satu petani di Kecamatan Long Mesangat, Suwardi, mengatakan kondisi air menjadi faktor penting yang menentukan keberlanjutan kegiatan tanam. Ia memperkirakan periode tanam pada Agustus hingga Oktober akan mengalami kendala apabila tidak ada lagi ketersediaan air di lahan.
“Diprediksi periode tanam Agustus sampai Oktober tidak akan ada pergerakan tanam jika kondisi air tidak ada lagi,” ucap Suwardi.
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar, diperlukan langkah cepat dan terkoordinasi dari berbagai pihak. Pemetaan kondisi lahan menjadi penting untuk mengetahui tingkat kekeringan sekaligus mengidentifikasi sumber-sumber air yang masih dapat dimanfaatkan oleh petani.
Pengelolaan air juga perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan. Efisiensi penggunaan air, optimalisasi sumber air yang tersedia, serta pengaturan waktu tanam dapat menjadi bagian dari strategi mitigasi untuk mengurangi risiko gagal tanam dan penurunan produksi.
Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Timur bersama pemerintah daerah, penyuluh, kelompok tani, dan pemangku kepentingan terkait dinilai perlu memperkuat pemantauan serta pendampingan secara langsung di lapangan. Langkah tersebut diperlukan agar penanganan kekeringan dapat dilakukan berdasarkan kondisi aktual yang dihadapi petani.
Selain pengelolaan sumber air, penerapan teknologi budidaya yang adaptif terhadap kondisi kekeringan juga menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan. Strategi tersebut diharapkan mampu membantu petani menyesuaikan pola budidaya dengan perubahan kondisi lingkungan dan ketersediaan air.
Kepala BRMP Kalimantan Timur, Ahmad Subhan, menilai kondisi kekeringan menjadi pengingat penting bagi sektor pertanian untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, persoalan ketersediaan air harus menjadi bagian penting dalam perencanaan pembangunan pertanian agar produktivitas pangan tetap terjaga.
“Kekeringan ini menjadi pengingat penting bahwa pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan menghadapi perubahan kondisi iklim harus menjadi bagian dari strategi pembangunan pertanian,” ujar Ahmad Subhan.
Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga pertanian, penyuluh, dan petani, dampak kekeringan di Long Mesangat diharapkan dapat ditekan. Respons yang cepat, pemantauan berkelanjutan, serta pengelolaan air yang tepat menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan kegiatan tanam dan mempertahankan produksi pangan di tengah kondisi iklim yang semakin tidak menentu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....