Kerbau Kalang: Kekayaan Sumber Daya Genetik Kalimantan Timur

  • 09 Nov 2025 09:50 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Kerbau Kalang menjadi salah satu kekayaan sumber daya genetik dari Kalimantan Timur yang telah dinobatkan sebagai rumpun kerbau berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2843/Kpts/LB.430/8/2012. Jenis kerbau ini menjadi pembahasan menarik dalam program Mozaik Indonesia edisi Jumat (7/11/2025) di Pro 1 RRI Samarinda, bersama narasumber Nur Rizki Bariroh, Ph.D., peneliti dari Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BPMP) Kalimantan Timur.

Menurut Nur Rizki Bariroh, kerbau kalang merupakan bagian dari jenis kerbau rawa (Bubalus bubalis), yang berbeda dengan kerbau sungai yang lebih banyak menghasilkan susu. Keunikan utama kerbau kalang terletak pada sistem pemeliharaannya yang dilakukan di kandang panggung di atas air yang disebut “kalang”, sekaligus menjadi asal penamaannya. Metode ini berkembang di kawasan Kutai Kartanegara, terutama di wilayah Muara Wis, Kota Bangun, dan sekitar Danau Jempang, Melintang, serta Semayang, tempat para peternak menggembalakan kerbau mereka melewati sungai setiap pagi dan mengembalikannya ke kalang pada sore hari.

“Cara pemeliharaan kerbau kalang yang menggabungkan unsur air dan darat menjadikannya simbol kearifan lokal masyarakat pesisir Kalimantan Timur,” ucap Nur Rizki. Tidak hanya sekadar ternak penghasil daging, kerbau ini juga merefleksikan adaptasi manusia terhadap lingkungan perairan. Para penggembala menggunakan perahu untuk mengantarkan kerbau menuju padang penggembalaan, di mana hewan-hewan tersebut kerap berenang menyeberangi sungai menuju area rumput di tepi danau. Aktivitas ini tidak hanya menantang, tetapi juga mencerminkan keharmonisan antara manusia, alam, dan hewan ternak.

Nur Rizki Bariroh menjelaskan bahwa dibandingkan sapi, kerbau kalang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem. Kerbau kalang mampu mencerna serat kasar dari pakan seperti jerami dan rumput rawa, menjadikannya hewan yang efisien di lahan dengan kualitas pakan terbatas. “Di daerah Penajam Paser Utara (PPU), kerbau juga sudah dikembangkan dengan sistem umbaran, hanya saja tanpa kandang panggung seperti di Muara Wis,” ujarnya. Perbedaan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat menyesuaikan cara beternak dengan kondisi geografis masing-masing daerah.

Keunikan kerbau kalang tidak hanya pada sistem pemeliharaan, tetapi juga pada nilai ekonominya. Berdasarkan data lapangan, setiap kelompok tani di wilayah Muara Wis memiliki rata-rata sekitar 400 ekor kerbau, dan terdapat setidaknya tiga kelompok tani aktif yang mengembangkan ternak ini. Harga per ekor kerbau kalang bisa mencapai Rp20 juta, tergantung berat hidupnya. Bahkan pada momen Hari Raya Kurban, permintaan kerbau kalang meningkat karena dagingnya dikenal memiliki kandungan protein lebih tinggi dibandingkan sapi, yakni sekitar 4–5 persen.

Beberapa pendengar RRI yang turut berinteraksi, seperti Pak Arman dari Loa Janan, menanyakan jumlah populasi dan nama ilmiah kerbau kalang, serta penyebarannya di Kalimantan Timur. Nur Rizki menjelaskan bahwa penyebaran utama masih berpusat di Kutai Kartanegara, namun terdapat potensi besar untuk dikembangkan di daerah pesisir lain, termasuk PPU dan Paser. “Nama ilmiah kerbau ini adalah Bubalus bubalis, sama dengan spesies kerbau air lain di Asia Tenggara, namun memiliki karakter genetik dan kebiasaan hidup khas Kalimantan Timur,” ujarnya.

Pendengar lain, seperti Pak Haryanto dari Kutai Barat, mengajukan pertanyaan unik mengenai bagaimana kerbau kalang melahirkan dan mengasuh anaknya di tengah lingkungan perairan. Nur Rizki menjelaskan bahwa peternak memiliki kandang beranak khusus di dekat kalang. Induk kerbau akan dipisahkan dari kelompoknya menjelang kelahiran, dan anaknya dipelihara hingga berusia sekitar enam bulan sebelum ikut digembalakan. Cara ini menunjukkan betapa peternak setempat memahami siklus hidup hewan dan mampu beradaptasi dengan kondisi alam yang menantang.

Sementara itu, Pak Ato dari Muara Badak menanyakan apakah kerbau kalang dapat hidup di air asin dan memakan daun nipah. Menurut Nur Rizki, kerbau kalang hanya dapat hidup di air tawar atau air payau ringan, karena untuk minum tetap memerlukan air tawar. Namun, hewan ini memang menyukai rasa asin sebagai tambahan mineral, sehingga beberapa peternak memberikan garam pada pakan mereka. Garam berfungsi sebagai sumber mineral dan penambah nafsu makan, suatu bentuk kearifan lokal yang ternyata memiliki dasar ilmiah.

Dialog di Mozaik Indonesia sore itu tidak hanya mengungkap keunikan biologis kerbau kalang, tetapi juga memperlihatkan pentingnya pelestarian plasma nutfah lokal di Kalimantan Timur. Dengan keindahan sistem kalang di atas air, aktivitas penggembalaan yang eksotis, serta potensi ekonomi yang besar, kerbau kalang berpeluang menjadi ikon baru wisata edukasi dan budaya di daerah pesisir. Seperti disampaikan Nur Rizki, dengan pendekatan modern dan dukungan pemerintah daerah, pengembangan kerbau kalang bukan sekadar menjaga warisan, tetapi juga membuka jalan bagi inovasi peternakan berkelanjutan di Bumi Etam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....