Pria Asal Jawa Jadi Korban Penganiayaan
- 23 Feb 2026 11:37 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Seorang pria bernama Yoga, warga asal Jawa, menjadi korban penganiayaan di kawasan Perum Citra Griya, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda, Minggu, 22 Februari 2026. Korban mengalami luka robek di bagian kepala akibat sabetan senjata tajam yang diduga dilakukan oleh seorang pria dalam kondisi mabuk.
Peristiwa tersebut menambah catatan kasus kekerasan jalanan di wilayah Kota Tepian dan menjadi perhatian masyarakat, mengingat lokasi kejadian berada di kawasan permukiman. Informasi awal mengenai insiden itu diterima oleh relawan Info Taruna Samarinda (ITS) yang kemudian melakukan penelusuran ke lokasi.
Ketua Info Taruna Samarinda, Joko Iswanto, mengatakan pihaknya mendapat laporan adanya keributan sebelum mengetahui adanya korban penganiayaan.
“Kami mendapat informasi adanya keributan. Setelah dicek, ternyata ada korban penganiayaan dengan luka sabetan di bagian kepala,” ujarnya.
Korban kemudian dilarikan ke RS Hermina Samarinda untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, terduga pelaku telah diamankan di Polresta Samarinda guna menjalani proses hukum lebih lanjut.
Di rumah sakit, korban sempat mendapatkan penanganan awal dari tim medis. Namun, untuk tindakan lanjutan berupa penjahitan luka di bagian kepala, diperlukan prosedur administrasi termasuk adanya penjamin biaya perawatan.
Joko menjelaskan korban tidak memiliki keluarga di Samarinda. Ia hanya didampingi pacarnya yang belum memiliki penghasilan tetap sehingga belum dapat menjadi penanggung jawab biaya pengobatan.
Melihat kondisi tersebut, ITS bersama relawan dan sejumlah pihak bergerak cepat menggalang bantuan agar proses medis korban tidak tertunda. Solidaritas warga dan jejaring relawan akhirnya mampu menutupi biaya yang diminta rumah sakit untuk tindakan penjahitan luka.
“Alhamdulillah, nilai yang diminta sudah kita selesaikan. Kami berkolaborasi dengan teman-teman relawan agar penanganan cepat dilakukan. Bagaimanapun juga, ini soal empati dan kemanusiaan,” ucapnya.
Setelah mendapatkan tindakan medis, korban selanjutnya diminta hadir ke kepolisian untuk memberikan keterangan sebagai bagian dari proses penyidikan. Aparat kepolisian masih mendalami motif penganiayaan tersebut.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan, serta menghindari konsumsi minuman keras yang kerap menjadi pemicu tindak kekerasan. Peran masyarakat dan relawan dalam merespons cepat situasi darurat juga dinilai membantu mencegah dampak yang lebih fatal bagi korban.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....